Tantangan Digital 2026, Akademisi Tekankan Pentingnya Etika dan Kontrol Orang Tua

  • 05 Mei 2026 17:02 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pesatnya perkembangan teknologi di tahun 2026 membawa tantangan tersendiri dalam pembentukan kecerdasan digital anak. Kemampuan mengoperasikan gawai dinilai belum cukup untuk disebut sebagai kecerdasan digital yang utuh tanpa disertai pendidikan karakter dan etika.

Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Walisongo, Prof. Rofiq dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Semarang, Selasa 5 Mei 2026. Ia menegaskan, keterampilan digital yang tidak dibarengi dengan fondasi pendidikan dan nilai moral justru berpotensi menimbulkan dampak negatif di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Menurut Prof. Rofiq, banyak anak saat ini hanya menguasai aspek teknis penggunaan teknologi tanpa pemahaman yang mendalam, sehingga perlu menjadi perhatian serius di era digital yang semakin kompleks. “Keterampilan yang tidak diimbangi dengan kompetensi pendidikan dan pengetahuan yang memadai berpotensi merusak,” katanya.

Ia menambahkan, selain pengetahuan umum, pembekalan ilmu agama dan nilai-nilai spiritual menjadi hal yang krusial agar anak-anak tidak terjebak dalam dampak negatif ruang digital. Contohnya, konten yang tidak mendidik hingga paparan pesan-pesan berbahaya di media digital.

Lebih lanjut, Prof. Rofiq mengibaratkan teknologi seperti alat sederhana seperti “pulpen atau pacul” yang manfaatnya sangat bergantung pada penggunanya. Ia menekankan, selain kemampuan teknis, masyarakat khususnya pelajar perlu mengedepankan etika dan etiket dalam berinteraksi di ruang digital.

Kekhawatiran orang tua terkait persaingan kerja dengan tenaga asing maupun otomatisasi teknologi, menurutnya, harus dijawab dengan kesiapan karakter, budi pekerti, serta kemampuan adaptasi yang bijak. Memasuki pertengahan 2026, kemampuan membatasi diri menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan digital.

Prof. Rofiq menyoroti perlunya pendampingan orang tua dalam penggunaan teknologi oleh anak. “Anak-anak harus dibekali agar bisa membatasi diri, jangan sampai larut dalam dunianya sendiri hingga melupakan realitas sosial,” katanya.

Ia juga menegaskan, pengendalian penggunaan teknologi harus dimulai dari orang tua. Tanpa kemampuan orang tua dalam mengatur penggunaan gawai mereka sendiri, upaya mengarahkan anak akan sulit dilakukan secara efektif. (Ari Tsu)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....