Pengamat: Wacana Penutupan Prodi Tak Menjamin Lulusan Terserap Kerja
- 30 Apr 2026 19:30 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Rencana penutupan sejumlah program studi dinilai tidak serta-merta menjamin lulusan terserap di dunia kerja. Kebijakan yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini justru perlu dikaji lebih mendalam agar tidak salah sasaran.
Pengamat pendidikan dari Universitas BPD, Vinsensia Anisa Citta Erydani, menilai persoalan utama bukan terletak pada relevansi program studi semata. Menurutnya, kemampuan program studi dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi faktor yang lebih krusial.
“Kalau menurut saya, urgensinya memang ada. Masalah utamanya bukan prodi yang tidak relevan, melainkan prodi yang tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman,” katanya dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Semarang, Kamis, 30 April 2026.
Ia menjelaskan, indikator relevansi program studi tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Outcome lulusan, kebutuhan pasar kerja, serta tren industri lima hingga sepuluh tahun ke depan harus menjadi pertimbangan utama.
Selain itu, kualitas pembelajaran dan kurikulum yang mutakhir juga menjadi faktor penting. “Kolaborasi internasional, fleksibilitas prodi, hingga integrasi lintas disiplin seperti ekonomi dengan data science juga menjadi indikator penting,” ucapnya.
Meski demikian, ia menilai penutupan program studi bukan solusi efektif untuk menekan angka pengangguran. Permasalahan utama justru terletak pada ketidaksesuaian keterampilan, minimnya soft skill, serta kurangnya pengalaman industri.
Ia pun menyarankan pemerintah untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan dan industri. Pengembangan kurikulum adaptif, program magang, serta upskilling dinilai lebih tepat untuk menjawab tantangan dunia kerja secara komprehensif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....