Populasi Tak Terkendali, Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Perairan Lokal

  • 24 Apr 2026 22:01 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Keberadaan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan menjadi perhatian serius para akademisi. Spesies ini dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem jika populasinya tidak segera dikendalikan secara tepat.

Dosen dan peneliti Ekologi Perairan, Prof. Sapto P. Putro, PhD menjelaskan ikan sapu-sapu memiliki karakteristik biologis unik. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan awalnya masuk perdagangan ke Indonesia sebagai ikan hias akuarium yang kemudian dilepas ke alam bebas.

Menurutnya, ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif karena memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan baru. Selain itu, ikan ini mampu bertahan dalam kondisi air yang minim oksigen dan kualitas lingkungan yang buruk.

“Ikan ini cepat berkembang biak dan tidak memiliki banyak predator alami di perairan kita, sehingga populasinya sulit dikendalikan,” ujar Prof Sapto dalam program SPADA PRO2 FM RRI Semarang, Jumat, 24 April 2026. Kondisi tersebut membuat ikan sapu-sapu mendominasi habitat yang sebelumnya ditempati ikan lokal.

Perkembangan pesat ikan ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pencemaran air dan perubahan habitat. Lingkungan perairan yang terdegradasi justru menjadi kondisi ideal bagi ikan sapu-sapu untuk berkembang.

“Ikan sapu-sapu dapat mengganggu ekosistem dengan mengikis dasar perairan dan mengonsumsi sumber pakan secara berlebihan,” jelas Prof Sapto. Ia menambahkan aktivitas tersebut membuat organisme lain kehilangan habitat alaminya.

“Selain itu, ikan ini juga bisa memakan telur ikan lain dan bersaing dalam mendapatkan makanan,” ujarnya. Menurutnya, kondisi ini berdampak langsung pada penurunan populasi ikan lokal.

Kehadiran ikan ini juga berkaitan erat dengan kualitas air yang tercemar. Menurut Prof Sapto, semakin buruk kualitas air, semakin besar peluang ikan sapu-sapu untuk mendominasi perairan tersebut karena mampu bertahan.

Secara ekologis, kondisi ini berdampak pada rantai makanan dan menurunkan keanekaragaman hayati. Jika dibiarkan, dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang sulit dipulihkan.

Prof Sapto menegaskan perlunya strategi pengendalian berbasis ilmiah untuk menekan populasi ikan sapu-sapu. Beberapa di antaranya melalui penangkapan massal, pemanfaatan sebagai bahan pupuk, serta restorasi kualitas lingkungan perairan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....