Gelar Kartini Day, Permata Bangsa School Tanamkan Literasi Global dan Emansipasi
- 21 Apr 2026 15:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Permata Bangsa School menggelar Kartini Day sebagai upaya menanamkan nilai emansipasi perempuan dan pembentukan karakter siswa sejak dini, Selasa, 21 April 2026. Kegiatan peringatan Hari Kartini 2026 ini diisi dengan fashion show serta berbagai kompetisi kreatif.
School Manager Permata Bangsa School, Prof. Jumanto mengatakan kegiatan ini rutin digelar untuk mengenalkan jasa R.A. Kartini kepada para siswa. “Anak-anak kita terutama dari TK, SD, dan SMP ini harus kita kenalkan jasa-jasa Kartini, terutamanya emansipasi peranan wanita yang setara dengan laki-laki,” katanya.
Menurutnya, Kartini Day juga menjadi bagian dari literasi budaya yang diusung sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk mencintai jasa para pahlawan sekaligus mengenal nilai-nilai kebangsaan.
Pada lomba fashion show, para siswa tampil mengenakan beragam pakaian adat dari berbagai daerah. Mereka berjalan dan berpose di atas catwalk layaknya peragawan dan peragawati.
Prof Jumanto menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membentuk karakter siswa sesuai core values sekolah. Nilai tersebut meliputi Character, Esteem, dan Excellence.
“Kita tanamkan literasi global untuk anak-anak kita. Mereka bisa memperoleh literasi global itu dalam bentuk baca tulis Indonesia Inggris, mengolah informasi, bahkan juga memanfaatkan dunia digital serta berpikir kritis,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan Kartini Day juga menjadi implementasi slogan sekolah, yakni orbis terrarum literacy pro futuro nostri liberos. Hal ini dimaknai sebagai literasi global untuk masa depan anak-anak.
Lebih lanjut, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan dalam kehidupan, yang tercermin dari keberagaman busana tradisional yang dikenakan para siswa. “Kita juga mengajarkan toleransi dan empati bahwa kita sama-sama bangsa Indonesia harus rukun, harmonis dan saling menghargai,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pemahaman emansipasi gender bagi siswa sejak dini. “ Bukan perbedaan yang bersaing tidak sehat , tapi perbedaan yang mampu saling berkolaborasi dan bekerja sama , serta memperoleh hak dan kewajiban yang sama untuk berprestasi sesuai dengan kemampuan mereka,” ujar Jumanto.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....