Gerakan Paperless Kian Relevan di Kalangan Mahasiswa

  • 19 Feb 2026 13:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Gerakan paperless atau pengurangan penggunaan kertas dinilai semakin relevan di kalangan mahasiswa. Isu ini mengemuka dalam program SPADA, Jumat, 13 Februari 2026 dengan menghadirkan dua mahasiswa, Nina Tirani dan Yolanda Putri Wulandari.

Dalam perbincangan tersebut, keduanya menyoroti masih tingginya penggunaan kertas dalam aktivitas perkuliahan. Mulai dari mencetak tugas, materi presentasi, hingga dokumen administrasi kampus yang sebenarnya dapat dialihkan ke format digital.

“Paperless itu bukan berarti antikertas sepenuhnya, tapi lebih ke bijak menggunakan kertas dan memaksimalkan teknologi yang ada,” ujar Nina Tirani. Ia menilai kesadaran mahasiswa penting karena kampus menjadi salah satu penyumbang penggunaan kertas cukup besar setiap harinya.

Menurut Nina, kebiasaan mencetak materi kuliah atau tugas tanpa perhitungan turut berdampak pada lingkungan. Penggunaan kertas berlebihan dan menumpuk berkaitan dengan peningkatan limbah yang sulit terurai jika tidak dikelola dengan baik.

Yolanda Putri Wulandari menambahkan bahwa langkah sederhana seperti mengumpulkan tugas melalui platform digital sudah menjadi awal perubahan. “Sekarang sudah banyak aplikasi dan learning management system yang memudahkan, jadi sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk terus boros kertas,” katanya.

Ia juga mengakui tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan lama mahasiswa yang merasa lebih nyaman belajar dengan cetakan fisik. “Butuh kesadaran bareng-bareng, karena kalau cuma satu dua orang yang paperless, dampaknya belum terlalu terasa,” ujarnya.

Keduanya berharap gerakan paperless dapat menjadi budaya baru di lingkungan kampus. Dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal, mahasiswa tidak hanya lebih efisien, tetapi juga turut berkontribusi menjaga lingkungan agar tetap lestari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....