Kacamata Ekoteologi, Relasi Manusia dengan Tuhan dan Alam
- 06 Feb 2026 21:53 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA membawa perspektif baru yang mendalam bagi civitas akademika UIN Walisongo mengenai relasi manusia dengan Tuhan dan alam semesta melalui kacamata Ekoteologi. Hal itu disampaikannya saat orasi ilmiah di Ruang Teater Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang pada Jumat 6 Februari 2026.
Nazaruddin menekankan pentingnya melakukan pendekatan ulang terhadap teologi Islam konvensional. Dunia saat ini sedang berada di titik nadir kerusakan ekologis akibat kegagalan manusia dalam memahami kedudukannya sebagai khalifah.
Ia juga menyoroti bahwa selama ini tasawuf sering dianggap sebagai jalan sunyi yang terpisah dari realitas sosial dan alam. Namun, ia justru menegaskan bahwa tasawuf adalah kunci keselamatan masa depan bumi.
"Perlu ada pendekatan ulang pada teologi kita, selama ini tasawuf dianggap kurang atau sekadar pelengkap, padahal tugas besar kita adalah mentransformasikannya. Hanya tasawuf lah yang bisa menyelamatkan alam semesta, dan hanya tasawuf lah yang mampu menjinakkan pikiran liar manusia yang eksploitatif," tegasnya.
Pihaknya juga membedah konsep teofani dan eksistensi manusia melalui terminologi sufi yang kompleks namun relevan. Ia mengajak audiens menyelami hakikat Nur Muhammad serta keseimbangan antara Makrokosmos (alam semesta) dan Mikrokosmos (diri manusia).
"Penjelasan mengenai hierarki spiritual dari Alam Ruh, Alam Malakut, hingga Alam Jabarut sebagai pondasi dasar mengapa manusia tidak boleh merasa terpisah dari entitas kosmik lainnya," jelasnya.
Menukil lirik legendaris Ebiet G. Ade, Prof Nazaruddin mengingatkan akan bahaya jika manusia terus memunggungi alam. "Alam bersahabat dengan kita, tapi kalau kita tidak bersahabat dengannya, mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita," ujarnya.
Ia juga menekankan pengakuan atas hak-hak eksistensial alam. Manusia memiliki hak untuk hidup, namun alam pun memiliki hak untuk tidak dirusak. "Prinsip saling menjaga dan menghormati hak masing-masing entitas ini selaras dengan visi UIN Walisongo yang mengusung paradigma Unity of Science (Kesatuan Ilmu) serta predikatnya sebagai Smart and Green Campus," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....