FK Undip Terima Hibah Bergengsi untuk Riset Kesehatan

  • 14 Sep 2025 10:37 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Tim peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro meraih hibah penelitian prestisius dari program United Kingdom Research Innovation -Southeast Asia (UKRI-SEA) Collaboration on Infectious Diseases. Mereka mengungguli 51 tim peneliti dari seluruh Indonesia, di mana hanya 6 tim yang berhasil mendapatkan pendanaan.

Tim peneliti ini dipimpin dr. Helmia Farida, M.Kes., Sp.A(K), Ph.D., beranggotakan tiga dokter ahli di bidang ini yaitu dr. Endang Sri Lestari, Ph.D, Dr. dr. Nur Farhanah, MSi.Med, Sp.PD, K-PTI, dr. Rebriarina Hapsari, M.Sc., Sp.MK(K). Hibah penelitian dengan total nilai awalnya mencapai Rp 26 miliar dari UKRI-SEA dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia akan mendukung riset mereka selama tiga tahun ke depan.

Sejalan dengan program efisiensi pemerintah terjadi penyesuaian besaran hibah menjadi Rp24,8 miliar. Hibah ini akan digunakan untuk penelitian terkait penyakit infeksi di Asia Tenggara, dengan fokus utama pada inovasi dalam diagnosis, pencegahan, dan pengobatan.

Salah satu peneliti utama,dr. Helmia Farida menyatakan, pendanaan ini memperkuat kolaborasi antara peneliti Indonesia dan Inggris, khususnya Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM). Hal itu untuk mengembangkan solusi menghadapi ancaman penyakit wabah infeksi, khususnya bakteri multiresisten yang saat ini sedang terjadi di Indonesia dan di dunia.

Penelitian ini bertajuk ‘INTerrupting prolifERation of Carbapenem resistance in Indonesia: clinical and genomic Evaluation of Pathways of Transmission (INTERCEPT). Harapannya, penelitian ini tidak hanya mengungkap proses terjadinya infeksi oleh bakteri multiresisten di rumah sakit.

Namun, harapan lainnya ialah menghasilkan solusi berupa kebijakan dan modul aplikatif di tingkat nasional, yang dapat diterapkan di rumah sakit tipe A, B, dan C di Indonesia. Dr. Helmia menjelaskan, penelitian ini berangkat dari permasalahan nyata yang dialami Indonesia dan banyak negara lain.

Menurutnya, permasalahan itu terkait tingginya angka kematian akibat infeksi oleh bakteri yang kebal terhadap banyak antibiotik (multiresisten). “Sayang, besarnya angka kematian ini kurang disadari oleh banyak pihak, sehingga belum terdapat upaya penanganan yang komprehensif,” ucapnya melalui siaran pers, Minggu (14/9/2025).

Untuk mengatasinya, ia mengatakan, salah satu solusinya adalah pengembangan antibiotik baru, tetapi solusi ini sangat mahal. Rumah sakit Indonesia umumnya tidak dapat menjangkau harga antibiotik baru tersebut.

Selain itu, mengatasi problem resistensi antibiotik memang tidak cukup hanya dengan mengembangkan antibiotik baru. Sebab, bakteri multiresisten tersebut dengan mudah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik baru hanya dalam beberapa tahun bahkan bulan.

Tim peneliti FK Undip berupaya mengembangkan solusi alternatif dengan memutus mata rantai penyebaran atau penularan bakteri multiresisten, khususnya di rumah sakit melalui upaya-upaya yang mampu laksana untuk kondisi di Indonesia. Hal itu cukup efektif secara terukur untuk menekan problem infeksi oleh bakteri multiresisten di Indonesia.

Anggota peneliti dr. Endang Sri Lestari, Ph.D mengatakan, penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya tentang antimicrobial resistance di Indonesia. Sebelumnya, ia telah melakukan bertahun-tahun yang berkolaborasi dengan beberapa universitas di Belanda yaitu Leiden University Medical Center, Erasmus University Medical Centre dan Radboud University Medical Center.

Keberhasilan tim dosen FK ini semakin mengukuhkan peran UNDIP sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam riset kesehatan. Dengan hibah ini, diharapkan akan lahir berbagai inovasi untuk meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia dan dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....