Mengenal Pepatah “Paribasan” dalam Bahasa Jawa
- 01 Agt 2025 22:02 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Jika dalam Bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa, masyarakat Jawa pun mengenal beberapa bentuk gaya bahasa yang memiliki fungsi sebagai piwulang (pembelajaran) secara lisan.
Gaya bahasa yang dituturkan secara turun temurun dalam kehidupan masyarakat Jawa tersebut sering dikenal sebagai pepatah (peribahasa Jawa). Pepatah ini dalam bahasa Jawa masyarakat sering menyebutnya dengan nama paribasan, bebasan, dan saloka.
Ketiga bentuk pepatah Jawa tersebut merupakan bentuk gaya bahasa yang berisi pitutur bijak. Digunakan dalam menyampaikan nasihat, teguran langsung, maupun sindiran kepada orang lain.
Paribasan, bebasan, dan saloka merupakan bentuk pepatah Jawa yang dibedakan berdasarkan gaya penyampaiannya. Mari kita mengenal bentuk pepatah Jawa tersebut beserta contohnya.
Pepatah Jawa Paribasan
Dalam bahasa jawa dijelaskan bahwa Paribasan yaiku unen-unen kang ajeg panganggone, mawa teges entar (kiasan) lan ora ngemu surasa pepindhan. (Terjemahan; Paribasan yaitu kata-kata yang tetap dalam penggunaannya, yang memiliki makna kiasan dan tidak mengandung makna pengandaian (bermakna konotatif).
Paribasan adalah pepatah Jawa yang terdiri dari rangkaian kata yang penggunaannya tetap tidak boleh diubah dan tidak boleh dialih bahasakan menjadi bahasa krama. Paribasan tersebut di sampaikan secara jelas.
Secara umum paribasan merupakan bentuk gaya bahasa Jawa yang berisi kata-kata yang dalam penggunaannya tidak boleh dialih bahasakan. Paribasan menggunakan bahasa jawa secara lugas, jelas dan tidak menggunakan pengandaian, perbandingan, atau perumpamaan.
Kata-kata atau gaya bahasa dalam paribasan berisi nasihat, teguran, atau sindiran kepada orang lain.
Contoh Paribasan atau peribahasa Jawa dan artinya;
"Adigang adigung adiguna", tegese ngendel-endelake kekuwatane, kaluhurane, lan kapintarane. Artinya; mengandalkan/menyombongkan kekuatannya, kekuasaannya, dan kepandaian yang dimilikinya.
"Ana catur mungkur", tegese ora gelam ngrungokake rerasaning liyan kang ora prayoga. Artinya; tidak mau mendengarkan keluh kesah/ gunjingan orang lain yang tidak baik.
"Angon mangsa", tegese golek wektu kang prayoga utawa golek wektu kang becik. Artinya; menunggu waktu yang tepat atau mencari waktu yang baik.
"Becik ketitik ala ketara", tegese tumindak becik lan tumindak ala bakal ketara tembe mburine utawa dititeni tembe mburine. Artinya; perbuatan baik dan buruk pasti akan terlihat nantinya.
"Anak polah bapa kapradhah", tegese wong tuwa nemu pakewuh amarga saka tumindake anak kang kurang prayoga. Artinya; orang tua juga ikut menanggung akibat dari perbuatan anaknya yang tidak baik. (TLM)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....