Jenis Ater-Ater (Imbuhan) pada Tembung Andhahan

  • 03 Mar 2025 22:47 WIB
  •  Semarang

KBRN: Semarang: Salah satu tembung yang terdapat dalam bahasa Jawa adalah tembung andhahan. Tembung andhahan merupakan suatu kata atau tembung yang terbentuk karena kata dasar mengalami proses afiksasi atau imbuhan.

Afiksasi adalah proses pembentukan kata baru dengan menambahkan imbuhan (afiks) pada kata dasar. Tembung andhahan juga dipahami sebagai kata yang sudah mengalami perubahan dari kata dasarnya.

Bambang Sulanjari menuturkan: "Perubahannya terdapat pada awal (ater-ater), tengah (seselan), dan akhir kata (panambang). Nah, tembung andhahan dalam bahasa Jawa sangat erat kaitannya dengan tembung lingga atau kata dasar."

Kata imbuhan dalam bahasa Jawa memiliki fungsi yang sama halnya pada bahasa Indonesia. Contoh tembung andhahan adalah gawa ditambah ake menjadi gawake.

"Kali ini kita akan mempelajari tentang jenis-jenis ater-ater (imbuhan) dalam tembung andhahan. Ater-ater adalah imbuhan yang terletak di depan kata dasar atau tembung lingga," tuturnya saat hadir sebagai narasumber di Pro4 RRI Semarang,

Sedangkan jjenis-jenis ater-ater (imbuhan) dalam tembung andhahan diantaranya ;

Jenis Ater-Ater (Imbuhan) pada Tembung Andhahan

1. Ater-Ater Anuswara

Ater-ater ini adalah tambahan pada awal kata, yaitu m, n, ng-, dan ny. Penggunaan ater-ater anuswara terdapat kata yang diawali huruf konsonan, seperti p, w, t, th, c, k, dan s.

Jika huruf tersebut diberi tambahan ater-ater anuswara akan melebur atau hilang.

Contoh ater-ater anuswara, antara lain:

-Kata sambel ditambah dengan awalan ny- menjadi nyambel.

- Kata pacul ditambah dengan awalan m menjadi macul.

- Kata kancing ditambah dengan awalan ng- menjadi ngancing.

- Kata tulis ditambang dengan awalan n menjadi nulis.

2. Ater-Ater Tripurusa

Ater-ater tripurusa disebut dengan ater-ater dak-ko-di.

Ater-ater di dalam bahasa Jawa krama berubah menjadi dipun, karena ater-ater di- adalah jenis bahasa ngoko atau bahasa Jawa kasar. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada ater-ater kok- dan dak-, Adjarian.

Meski keduanya termasuk dalam bahasa Jawa ngoko, ater-ater ko- dan dak- tetap digunakan dalam bahasa Jawa krama alus maupun krama inggil. Berikut ini merupakan contoh ater-ater atau imbuhan dalam tembung andhahan, yaitu:

- Kata jupuk ditambah dengan ater-ater di menjadi dijupuk.

- Kata tuku ditambah dengan ater-ater ko menjadi kotuku.

- Kata pangan ditambah dengan ater-ater dak menjadi dakpangan.

- Kata pundhut ditambah dengan ater-ater dipun menjadi dipunpundhut.

"Demikian penjelasan tentang jenis-jenis ater-ater dalam tembung andhahan,," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....