Dongkrak Ekonomi, DPRD Jateng Ajak Ubah Limbah Usaha Jadi Barang Bernilai Rupiah
- 20 Sep 2026 09:00 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi pengolahan sampah, tetapi mengubah kebiasaan masyarakat dalam memandang sampah.
- Dorongan tersebut menempatkan sampah bukan semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bahan baku ekonomi sirkular
RRI.CO.ID, Pekalongan — Sampah masih kerap berakhir di tempat pembuangan tanpa memberi nilai tambah. Kondisi itu ingin diubah DPRD Jawa Tengah bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jateng dengan mendorong masyarakat mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Aktual bertema “Mengubah Limbah Menjadi Berkah, Inovasi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Ekonomi Sirkular” bersama ibu-ibu Muslimat NU Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.
Anggota DPRD Jawa Tengah Sumarwati mengatakan, pengolahan sampah sebenarnya bukan gagasan baru. Praktik tersebut bahkan telah berjalan di salah satu desa di Kecamatan Wonopringgo sehingga dinilai layak diperluas dan tidak berhenti sebagai gerakan di tingkat desa.
“Kita memang mengambil sebuah tema yang menarik dan memang sudah terbukti di salah satu desa di Wonopringgo ini, mengolah sampah menjadi berkah,” kata Sumarwati, Sabtu 19 September 2026.
Menurutnya, berbagai limbah rumah tangga maupun usaha memiliki peluang untuk diolah kembali. Kulit buah, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi sabun nonkimia. Sementara botol plastik dan bungkus mi instan pernah dikreasikan menjadi bahan pakaian dalam kegiatan Festival Menyambut Kemerdekaan di Wonopringgo.
Praktik pemilahan juga telah diterapkan di Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo. Masyarakat didorong memisahkan sampah organik, sampah yang tidak dapat diolah, hingga kategori sampah berbahaya.
“Kalau di Rowokembu itu sudah tidak
buang sampah sembarangan, tapi sudah bisa pilah sampah. Pilah sampah mana yang organik, mana yang tidak bisa diolah, yang berbahaya,” ujarnya.
Tak berhenti pada sampah yang mudah diolah, Sumarwati menyebut limbah seperti popok sekali pakai juga dapat dimanfaatkan melalui proses tertentu, salah satunya menjadi pot bunga. DPRD Jateng bersama BRIDA mendorong praktik semacam ini diperluas melalui pemberdayaan perempuan di sejumlah kecamatan.
Analis Kebijakan Ahli Muda BRIDA Jateng, Dr. Tri Susilowati, menegaskan pengelolaan sampah merupakan bagian dari inovasi yang harus didorong hingga benar-benar diterapkan masyarakat. Pengelolaan yang tidak optimal berpotensi membuat sampah menumpuk dan menimbulkan persoalan lingkungan maupun kesehatan.
Sementara itu, praktisi lingkungan Bank Sampah Induk Sahabat Bumi Kabupaten Pekalongan, Tri Indah Mulyaningsih, mengatakan sampah organik memiliki banyak pilihan pengolahan. Di antaranya menjadi pupuk kompos, eco enzyme, hingga media budidaya maggot.
“Di antaranya adalah menjadi pupuk kompos, kemudian menjadi eco enzyme, dan kemudian budidaya maggot. Semuanya itu bisa kita pelajari dan bisa kita praktikkan bersama masyarakat,” jelasnya.
Menurut Tri Indah, tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi pengolahan sampah, tetapi mengubah kebiasaan masyarakat dalam memandang sampah. Karena itu, gerakan pengelolaan sampah perlu dimulai dari rumah dan komunitas agar limbah tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Dorongan tersebut menempatkan sampah bukan semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bahan baku ekonomi sirkular. Jika pemilahan, pengolahan, dan pemasaran produk berjalan, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai berpeluang berubah menjadi barang yang menghasilkan rupiah sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....