Oleh-oleh Haji Tak Seramai Dulu, Stok Impor Jadi Kendala Utama
- 25 Apr 2026 11:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Musim haji dan umrah tahun 2026 membawa cerita yang sedikit berbeda bagi pelaku usaha oleh-oleh. Di tengah dinamika global dan perubahan pola konsumsi masyarakat, permintaan pernak-pernik khas haji dilaporkan mengalami penurunan, terutama jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi.
Zakaria Ismail, pemilik Jack’s Collection, salah satu penyedia oleh-oleh haji dan umrah di Semarang, mengungkapkan bahwa tren penurunan sebenarnya sudah mulai terasa sejak pandemi berakhir. Kondisi ini semakin diperkuat oleh tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah yang berdampak langsung pada harga produk impor.
“Permintaan tidak seramai dulu. Selain karena daya beli, kurs dolar yang tinggi juga memengaruhi harga, terutama untuk produk makanan khas yang sebagian besar masih impor,” ujarnya saat berbincang di Pro 1 RRI, Sabtu pagi, 25 April 2026.
Meski demikian, minat masyarakat terhadap oleh-oleh khas haji seperti kurma, kacang-kacangan, pistachio, dan kismis masih relatif stabil. Hanya saja, tantangan kini bergeser pada ketersediaan barang di pasaran.
Ismail menyebut, beberapa komoditas bahkan sempat langka karena terganggunya jalur distribusi impor. “Sekarang problem utamanya justru barang kosong, ada beberapa produk yang belum masuk ke Indonesia, sehingga kami tidak bisa memenuhi permintaan pelanggan,” jelasnya.
Kondisi ini memaksa pelaku usaha untuk lebih selektif dalam menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen. Ismail memastikan, hanya bekerja sama dengan mitra terpercaya serta menjaga standar penyimpanan produk, terutama untuk makanan yang memiliki masa kedaluwarsa.
Di sisi lain, tradisi membawa oleh-oleh haji di masyarakat, khususnya di Jawa Tengah, masih tetap bertahan. Namun, mulai terlihat adanya pergeseran pola pikir, terutama di kalangan jemaah muda.
“Sekarang ada juga yang memilih berbagi dalam bentuk lain, seperti sedekah, dibandingkan membawa banyak oleh-oleh. Jadi memang mulai ada perubahan,” tambahnya.
Menariknya, Ismail juga mengingatkan bahwa tidak semua produk oleh-oleh lebih murah dibeli di Tanah Suci. Beberapa barang justru bisa didapatkan dengan harga lebih terjangkau di Indonesia, tergantung lokasi pembelian di Arab Saudi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pelaku usaha tetap berupaya beradaptasi agar tradisi berbagi oleh-oleh haji tetap bisa dijalankan, meski dengan cara dan pilihan yang semakin beragam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....