Penukaran Antri Semalaman, Jasa Tukar Uang Baru Diserbu
- 04 Apr 2024 21:28 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Bagi-bagi THR untuk sanak saudara sudah menjadi tradisi lebaran di Indonesia. Maka tak jarang masyarakat yang jauh -jauh hari telah berburu pecahan uang baru untuk diberi di hari raya.
Tradisi ini membuka peluang cuan bagi masyarakat yang menjajakan jasa penukaran uang baru. Meski dilarang pemerintah, namun fenomena ini masih ditemui, seperti di sepanjang Jalan Pahlawan Semarang.
Pantauan RRI, rata-rata penyedia jasa menawarkan margin untung 5-10 % dari jumlah uang yang ditukarkan. Sebagai contoh tiap satu bendel uang Rp10 ribuan senilai satu juta, dihargai Rp 100 ribu.
Salah satu penyedia jasa penukaran uang, Surantini (52) menyebut minat masyarakat menukarkan uang kian hari makin tinggi. Bahkan, ia mengaku bisa menjual uang hingga Rp 20 juta/ hari.
"Sehari bisa Rp 15 juta-Rp 20 juta. Kalau yang ramai itu di jam pagi. Kalau sore ramai orang tapi jarang yang tukar pada cari buko (menu berbuka)," ujarnya, Kamis (4/4/2024).
Surantini mengakui harga jasa penukaran uang tahun ini kian mahal. Sebab, antrean penukaran uang di Bank Indonesia menyita waktu hingga sehari semalam.
"Jasanya sekarang mahal karena dari carinya mbak susah. Dari jam 05.00 sore sampai jam 11.00 siang (sehari semalam) baru dapat. Karena kuotanya cuma 400 orang di BI. Sekarang penukarannya sulit ga kaya dulu mbak, sekarang di batasi. Dari sore antri dapetnya besok, kalau hujan kasian lo mbak semalam hujan, pada kehujanan," ungkapnya.
Tak hayal, Surantini lebih memilih menanam orang untuk mengantri. Jasa mengantri di BI, ia beli Rp 50-100 ribu tiap nomor antrian.
"Saya juga beli orang satu nomor Rp100 ribu. Satu nomor itu dibatasi juga penukarannya maksimal Rp 4 juta. Isinya uang baru pecahannya macam- macam dari Rp 2 ribu, sampai Rp50 ribu. Tapi yang laris Rp5 dan 10 ribu," ujarnya.
Penyedia jasa penukaran lainnya, Budi (46) mengeluhkan hal yang sama. Ia terpaksa mengantri hingga berjam-jam untuk dapat menukarkan uang Rp4 juta.
"Saya modalnya dikit jadi antri sendiri. Tahun ini susah sekali penukaran uangnya, di batasi. Yang dulu kan penukaran uang bisa dari 3 minggu kalau ini cuma 2 minggu," terangnya.
Budi optimis penantiannya dalam membantu masyarakat menukarkan uang akan berbuah cuan. "Sehari kadang laku Rp5 juta kadang Rp4 juta. Ga tentu ya mbak, nanti semakin mendekati semakin ramai. Apalagi kalau bank tutup. Bisa sampai Rp10 juta sehari. Tapi harganya juga jadi mahal satu bendel 1 juta ini dijual bisa 20 persen," ujarnya.
Salah satu pembeli jasa Amin (56) mengaku sangat terbantu dengan adanya penukaran uang baru di pinggir jalan. Meski ada margin untung, Amin meniatkannya sebagai upah jasa bukan riba.
"Mas iki aku ora bungani ya (tidak memberi bunga), tapi aku ngupahi jenengan njih. Jadi kulo boten (tidak) riba njih tapi kulo ngupahi jasane njenegan," ujarnya kepada penjual jasa.
Amin lebih jauh berniat untuk berbagi di hari idul fitri nanti. "Lebih mudah mbak, gak antri tukar disini. Kadang sudah antri pakai nomor, nomornya sudah hampir sampai kuota uangnya sudah habis. InsyaAllah (bagi-bagi THR) nanti waktu mudik ke Klaten," pungkasnya.