Air Sumur Asin, Jateng Siapkan Teknologi Air Payau Jadi Air Minum di Pati
- 06 Okt 2026 15:26 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Kesulitan warga Desa Triguno, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, ternyata bukan hanya karena kekeringan saat musim kemarau. Air tanah di wilayah tersebut juga cenderung asin dan payau sehingga tidak layak dikonsumsi sebagai air minum.
"Sumur di sini keluarnya asin. Kalau ada sumur ya, jadi susah memang, kalau untuk mandi boleh-boleh saja, bisa-bisa saja,” ujar salah satu warga setempat, Sukawi saat penyaluran air bersih oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin bersama Ketua TP PKK Jateng Nawal Arafah Yasin di Desa Triguno, Selasa, 6 Oktober 2026.
Melihat kondisi itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan solusi jangka panjang melalui program desalinasi atau pengolahan air payau menjadi air tawar. Program tersebut akan dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip) agar warga tidak terus bergantung pada bantuan air bersih setiap tahun.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengatakan, kebutuhan utama masyarakat Triguno sebenarnya bukan sekadar pasokan air untuk kebutuhan harian. Warga membutuhkan sumber air minum yang aman karena kualitas air tanah di desa tersebut kurang layak untuk dikonsumsi.
“Ternyata di desa ini airnya payau, sehingga yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya air bersih untuk minum ya,” kata Taj Yasin saat menyalurkan bantuan air bersih bersama Ketua TP PKK Jateng Nawal Arafah Yasin di Desa Triguno, Selasa 6 Oktober 2026.
Sebagai langkah darurat, Pemprov Jateng menyalurkan 10 truk air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun bantuan tersebut disebut hanya menjadi solusi sementara sambil menyiapkan penanganan yang lebih permanen.
Gus Yasin menjelaskan, teknologi desalinasi akan memanfaatkan sumber air payau yang selama ini tersedia di wilayah tersebut. Melalui teknologi itu, air yang sebelumnya tidak layak minum diharapkan dapat diolah menjadi air konsumsi yang aman bagi masyarakat.
“Kita nanti akan kerja sama melanjutkan program Pemprov yaitu desalinasi dengan Undip. Kita bikin di desa ini supaya air payau itu nanti bisa diubah menjadi air minum,” ujarnya.
Selain menyiapkan teknologi pengolahan air, Pemprov Jateng juga menyoroti potensi Bendungan Triguno yang memiliki kapasitas sekitar 35 ribu meter kubik air. Potensi tersebut dinilai dapat dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan air masyarakat apabila saluran distribusinya diperbaiki.
Menurut Gus Yasin, sejumlah jaringan dan saluran air di sekitar bendungan memerlukan pemeliharaan. Dengan perbaikan tersebut, distribusi air ke wilayah sekitar diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, saat ini sekitar 60 desa di wilayahnya masih terdampak kekeringan. Pemerintah daerah terus mengupayakan distribusi air bersih melalui berbagai sumber pendanaan, termasuk CSR dan Belanja Tidak Terduga (BTT).
"Kami terus berupaya untuk pengiriman air bersih. Entah dari CSR, entah dari BTT sudah kami siapkan," katanya.
Ia mengakui keterbatasan armada tangki menjadi salah satu kendala dalam distribusi air bersih. Karena itu, Pemkab Pati menggandeng pengusaha pemilik truk tangki dan berkoordinasi dengan daerah lain untuk menambah armada bantuan.
"Kami akan bangun jaringan supaya jaringan PDAM ini bisa mengalir ke daerah-daerah terdampak kekeringan," tegasnya.
Data BPBD Jawa Tengah mencatat, selama periode 5 Juni hingga 28 September 2026 sebanyak 75,46 juta liter air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan di 33 kabupaten/kota. Bantuan tersebut menjangkau 1,55 juta kepala keluarga atau 2,34 juta jiwa yang tersebar di 255 kecamatan dan 784 desa/kelurahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....