Serangan Jantung Tak Lagi Tunggu Tua, YJI Jateng Siapkan Kader Muda
- 29 Agt 2026 14:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Serangan jantung kini tak lagi menunggu seseorang memasuki usia lanjut. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Jawa Tengah mulai menyiapkan kader-kader muda sebagai respons atas ancaman penyakit jantung yang semakin menyasar generasi muda, bahkan kelompok usia 20-an.
Ketua YJI Cabang Jawa Tengah, dr Dyah Anggraeni, M.Kes., Sp.PK., yang baru saja dilantik mengatakan pencegahan harus dimulai sedini mungkin sebelum anak-anak memasuki usia produktif. Karena itu, YJI tidak hanya mengandalkan kampanye kesehatan, tetapi membangun kader dari lingkungan sekolah hingga komunitas mahasiswa.
“Kemudian kami juga menyiapkan kader-kader muda. Tadi bisa dilihat, ya, mulai dari anak SD, SMP, SMA itu ada esenam lompat tali dan hip hop. Lompat tali itu biasanya anak SD, SMP, hip hop itu untuk anak SMA dan mahasiswa. Jadi, merekalah kader-kader yang karena sekarang penyakit jantung itu tidak menunggu tua, kita sosialisasikan preventif, termasuk hari ini bersama Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan cek kesehatan gratis," ujarnya usai Senam Jantung Sehat di Gradika Bakti Praja, Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Dyah, sekolah menjadi pintu penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak anak-anak. Untuk siswa SD dan SMP, YJI akan membekali guru agar mampu menjadi penggerak aktivitas fisik sekaligus menyampaikan edukasi mengenai kesehatan jantung.
“Dari gurunya. Kalau anak-anak SD, SMP kan gurunya kita latih. Gurunya kita mengadakan eh Komite Olahraga Nasional dengan KORMI. Kita akan melatih guru-guru sekolah eh senam lompat tali. Ada beberapa seri. Eh, senam jantung untuk anak dan remaja itu tadi eh lompat tali namanya. Namanya senam lompat tali," tuturnya.
Sementara siswa SMA dan mahasiswa akan diarahkan terlibat langsung dalam komunitas kesehatan. YJI juga akan menggandeng guru dan dosen untuk memperkuat edukasi kesehatan jantung di kalangan remaja.
“Kemudian kalau untuk anak-anak SMA, kita akan melibatkan langsung mereka pada komunitas, termasuk mahasiswa, mereka bisa langsung dan juga para eh guru maupun dosen-dosen yang berkaitan dengan pembinaan remaja untuk kesehatan ini eh akan bersama-sama kita adakan pelatihan," tandasnya.
Dyah mengatakan senam lompat tali dipilih bukan sekadar untuk membuat anak aktif bergerak, tetapi sebagai sarana melatih kebugaran jantung dengan aktivitas aerobik yang sesuai bagi usia muda. Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi fondasi agar olahraga menjadi bagian dari gaya hidup mereka.
“Itu senam aerobikuntuk anak-anak. Kalau orang tua sudah enggak kuat ada loncat-loncat seperti itu. Jadi, memang mengkondisikan bahwa sejak muda anak-anak itu sudah gemar berolahraga, khususnya senam. Sehingga jantung mereka sudah terlatih," terangnya.
Bagi Dyah, olahraga juga menjadi pintu masuk untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sekaligus menjauhkan anak dari perilaku berisiko. Anak-anak yang aktif bergerak diharapkan lebih mampu mengendalikan keinginan untuk merokok dan memilih pola hidup yang lebih sehat.
“Dan ini salah satu karena di jantung kan filosofinya tadi sudah bolak-balik hidup sehat itu tadi, seimbangkan gizi, nyamkan rokok. Nah, anak-anak ini kan masih muda. Kalau mereka diarahkan untuk berolahraga, mereka akan paling tidak mengendalikan keinginan mereka untuk merokok. Jadi, lebih baik mereka berolahraga dan hidup sehat," ujarnya.
Dyah menegaskan perubahan pola kasus menjadi alasan kuat mengapa edukasi tidak boleh menunggu usia dewasa. Menurutnya, serangan jantung sudah dapat terjadi pada orang berusia 20-an.
“Sekarang serangan jantung tidak menunggu tua. Bahkan anak-anak umur 20-an itu sudah bisa terkena serangan jantung. Gitu," ujar Dyah.
Risiko tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk hipertensi, faktor keturunan, obesitas, hingga pola makan yang tidak sehat. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food secara berlebihan juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung.
“Kalau faktor resikonya mungkin kan eh ya ada eh tekanan darah esensial, hipertensi esensial. Itu biasanya banyak dijumpai pada memang keturunan hipertensi, ya. Kemudian orang yang mungkin kurang sehat, ya. Jadi, mereka sangat obes, sangat obes. Atau kalau sekarang sih, ya, faktor junk food. Kita kan tahu anak-anak kita itu kan junk food banget gitu," terangnya.
Karena itu, YJI Jateng memastikan program untuk anak dan remaja tidak berhenti pada kegiatan senam. Edukasi mengenai makanan sehat, pencegahan penyakit jantung, hingga pengelolaan stres akan menjadi bagian dari pembentukan kader muda.
“Nah, sekarang ini dengan ya, itu kan sebetulnya meningkatkan faktor resiko. Jadi, ya, ya kalau kadang-kadang aja, lah, ya. Tapi eh mereka dididik arahkan untuk makan sayur dan lain-lain. Di sini di jantung ini ada edukasinya. Jadi, bukan sekedar eh apa? eh bukan sekedar mereka eh senam, tapi juga edukasi kesehatannya kita ada. Jadi, pelatih itu kita latih untuk melakukan edukasi pencegahan penyakit jantung," paparnya.
Dyah juga mengingatkan generasi muda agar tidak menganggap remeh kesehatan jantung hanya karena masih berusia muda. Aktivitas fisik, gizi seimbang, serta kemampuan mengelola tekanan psikologis atau strees menjadi bagian penting dari pencegahan.
Ancaman serupa sebelumnya disampaikan Sekretaris Jenderal YJI Pusat, Rezka Oktoberia, yang menyebut penyakit jantung kini mulai bergeser dan turut mengancam generasi muda. Ia juga mengingatkan penggunaan rokok elektronik atau vape yang semakin banyak di kalangan anak muda sebagai salah satu hal yang perlu diwaspadai.
“Waspadai anak-anak kita, tetap jaga kesehatan jantung kita dan orang-orang yang kita cintai,” ujarnya.
Ancaman penyakit jantung pada usia muda juga tercermin dari penanganan yang dilakukan YJI Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Ketua YJI Jateng periode sebelumnya, Sri Lestari Soediro, menyebut sekitar 300 anak dengan penyakit jantung bawaan telah mendapatkan pendampingan selama masa kepemimpinannya.
Program tersebut menjangkau berbagai daerah, mulai dari Cilacap, Wonosobo hingga Demak. Soediro menilai gerakan kesadaran jantung sehat harus terus diperluas hingga tingkat komunitas agar pencegahan tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan.
“Anggotanya YJI kalau seluruh Jawa Tengah ini sudah 20 juta ada lah. tiap kelurahan ada yang 10, nggih, ada yang 10 orang, ada yang 10, ada yang 20, minim 20 orang,” tuturnya.
Dengan menempatkan generasi muda sebagai sasaran utama pencegahan, YJI Jawa Tengah ingin mengubah pola penanganan dari menunggu sakit menjadi mencegah sejak dini. Kader-kader muda yang dibangun dari sekolah dan komunitas diharapkan menjadi motor gerakan hidup sehat sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyakit jantung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....