BI Jadikan Ponpes Fadhlul Fadlan Contoh Kemandirian Ekonomi Pesantren di Jateng

  • 28 Jul 2026 15:53 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah mendorong pondok pesantren di berbagai daerah mencontoh keberhasilan Pondok Pesantren Fadhlul Fadlan, Semarang, dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian terpadu dan ekonomi sirkular. Model yang diterapkan pesantren tersebut dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi pesantren.

Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Noor Nugroho, mengatakan Fadhlul Fadlan telah menjadi salah satu pesantren binaan yang menunjukkan hasil nyata dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Menurutnya, keberhasilan tersebut perlu direplikasi agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi pesantren lain di Jawa Tengah.

"Ponpes Fadhlul Fadlan ini sangat bisa jadi teladan. Jadi, mudah-mudahan dari sisi optimalnya itu sebenarnya bukan hanya satu tapi ini bisa menularkan Pak Kiai. Mudah-mudahan bisa menular ke Ponpes yang lain," ujarnya usai membuka Olimpiade Aksi dan Syiar Ekonomi Syariah (OASE) 2026 di ponpes Fadhlul Fadlan, Selasa 28 Juli 2026.

Noor menilai ilmu dan pengalaman yang telah dibangun Fadhlul Fadlan dapat menjadi inspirasi bagi pesantren lain untuk memperkuat kemandirian ekonomi. Dengan berbagi praktik baik tersebut, dampak pengembangan ekonomi syariah di lingkungan pesantren diharapkan semakin besar.

"Ilmunya sudah ada di sini tinggal di-sharing-kan ke teman-teman di ponpes yang lain. Mudah-mudahan impact-nya lebih besar sekaligus juga menginspirasi untuk ponpes yang lain," katanya.

Pimpinan Pondok Pesantren Fadhlul Fadlan, KH Fadlolan Musyaffa', mengatakan dukungan BI telah membantu pesantren mengembangkan berbagai program ekonomi produktif. Program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan pesantren, tetapi juga membiasakan santri berpikir maju dalam bidang ekonomi.

"Insyaallah pesantren terbuka dan insyaallah akan membawa kemanfaatan umat terutama anak-anak kita santri itu terdidik terbiasa untuk berpikir maju dalam urusan ekonomi," ujarnya.

Saat ini, Fadhlul Fadlan mengembangkan pertanian terpadu dengan dukungan greenhouse komunal, kolam perikanan, peternakan, dan budidaya sayuran. Sistem tersebut dirancang untuk memperkuat kemandirian pangan pesantren sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.

"Kami punya greenhouse dibantu BI pusat juga ada dua dan rencananya lima untuk komunal agar supaya pesantren-pesantren itu ngeh bahwa ekonomi kemandirian pesantren itu penting untuk menahan inflasi sehingga negara dalam keadaan tidak menentu ekonomi, pesantren tetap kokoh karena punya cabe sendiri, punya ayam sendiri, punya telur sendiri, kami punya ikan," tuturnya.

Pesantren yang baru berdiri tujuh tahun itu kini memiliki sekitar 1.600 santri dan mengelola 50 kolam ikan serta lahan pertanian seluas dua hektare. Berbagai kebutuhan pangan santri dipenuhi dari hasil budidaya sendiri sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya operasional.

Selain pertanian dan perikanan, Fadhlul Fadlan juga menerapkan ekonomi sirkular dengan mengolah sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Limbah organik dimanfaatkan untuk pakan ternak dan maggot, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai jual digunakan untuk membantu membiayai kebutuhan operasional pesantren.

"Kami semuanya ekonomi sirkuler sudah berjalan di sini dari sampah bermasalah menjadi berkah dan seterusnya. Insyaallah kita semuanya akan memulai dari yang kecil, dari kecil itulah akan menjadi yang besar," kata Fadlolan.

Air bekas kurasan kolam ikan pun dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sehingga mengurangi penggunaan pupuk tambahan. Menurut Fadlolan, sistem yang saling terhubung tersebut membuat seluruh sumber daya dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa menghasilkan banyak limbah.

Upaya itu mulai memberikan hasil nyata bagi pesantren. Fadhlul Fadlan berhasil menghemat biaya operasional sekitar 15 persen dan menargetkan efisiensi meningkat hingga 30 persen, bahkan lebih dari 50 persen jika pengembangan perikanan dan peternakan berjalan optimal.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Andi Riena, menambahkan keberhasilan tersebut menjadi alasan Fadhlul Fadlan dipilih sebagai contoh bagi pesantren lain. Menurutnya, yang bisa ditiru bukan hanya model pertanian terintegrasi, tetapi juga berbagai unit usaha yang telah dikembangkan pesantren.

"Kami memang mengharapkan Fadhlul Fadlan ini bisa jadi success story bagi pesantren-pesantren lain. Tidak hanya dari sisi pemanfaatan integrated farming atau sirkuler, tapi juga bisnis-bisnis yang sudah dilaksanakan di Fadhlul Fadlan ini mudah-mudahan bisa menjadi pemicu juga pesantren lain untuk meningkatkan kemandirian," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....