Jejak Kebangkitan Buddha di Bukit Kassapa, Vihara Sima Bersolek Jadi Wisata Religi

  • 27 Jul 2026 11:11 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Di balik rimbunnya pepohonan dan udara sejuk perbukitan Pudakpayung, Semarang, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Ialah Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti di Bukit Kassapa yang kini tengah dipugar untuk mengembalikan kejayaannya sekaligus membuka peluang menjadi destinasi wisata religi berbasis sejarah.

Jalan setapak yang teduh, suasana hutan yang masih alami, dan panorama perbukitan menjadi kesan pertama yang menyambut setiap pengunjung. Bagi peziarah maupun pencinta wisata spiritual, tempat ini menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Pemugaran yang berlangsung saat ini menyasar area ibadah dan pelataran Joglo Sīmā agar kembali nyaman digunakan. Upaya tersebut tidak hanya memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga menjaga jejak sejarah yang telah berusia lebih dari enam dekade.

Salah seorang pengunjung asal Boyolali, Dian, mengaku selalu memiliki alasan untuk kembali ke Bukit Kassapa. Ia menilai suasana yang masih asri dan alami menjadi daya tarik utama yang membuat kawasan tersebut layak dikembangkan sebagai tujuan wisata religi.

"Saya sudah dua kali ke sini, pertama waktu Thudong dan yang kedua acara ini. Saya rasa ini cocok jadi wisata religi karena masih asri, sangat masih alami," ujarnya saat menghadiri peringatan Asaḍha 2570 T.B./2026, Sabtu 25 Juli 2026.

Namun daya tarik Bukit Kassapa tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Di tempat inilah salah satu tonggak penting sejarah agama Buddha modern di Indonesia pernah ditorehkan.

Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Kota Semarang, Romo Dariono, mengatakan nilai sejarah yang tinggi menjadi alasan kuat mengapa banyak orang tertarik mengunjungi vihara tersebut. Menurutnya, Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti merupakan bagian dari awal kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia setelah lama tidak menunjukkan perkembangan signifikan.

"Mudah-mudahan harapannya seperti itu (bisa menjadi wisata religi) karena nilai sejarah yang sangat tinggi tentu banyak sekali orang yang ingin tahu kenapa kok tempat ini punya nilai sejarah tinggi," tuturnya.

Nama "2500 Buddha Jayanti" sendiri lahir dari momentum peringatan 2.500 tahun Buddha Jayanti yang dirayakan dunia pada pertengahan abad ke-20. Peristiwa itu menjadi pemantik semangat kebangkitan umat Buddha di Indonesia yang saat itu masih sangat terbatas.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, kawasan ini juga memiliki status sebagai Sima, yakni lokasi khusus untuk pelaksanaan Upasampadā atau penahbisan bhikkhu. Karena belum banyak bhikkhu senior di Indonesia pada masa itu, proses penahbisan dilakukan dengan menghadirkan para bhikkhu senior dari luar negeri.

"Berkaitan dengan kehadiran para bhikku yang banyak tadilah (dari luar negeri), maka wihara ini sekaligus dijadikan sebagai Sima," tandasnya.

Sejarah mencatat, Vihara 2500 Buddha Jayanti diresmikan pada 16 Maret 1958. Sementara kawasan Sima sebagai tempat penahbisan bhikkhu diresmikan dua bulan kemudian, tepatnya pada 21 Mei 1958.

Berdirinya vihara bersejarah ini tidak lepas dari peran Y.A. Maha Nayaka Ashin Jinarakkhita, tokoh yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Melalui kunjungannya ke Indonesia pada 1955 dan 1956, ia mendorong lahirnya pusat pembelajaran Dhamma yang kemudian berkembang menjadi salah satu situs penting Buddhis di Tanah Air.

Nama besar Jenderal TNI Gatot Subroto juga tercatat dalam sejarah Bukit Kassapa. Sahabat dekat Ashin Jinarakkhita tersebut memberikan dukungan besar hingga berdirinya Vihara 2500 Buddha Jayanti-Sima Internasional Kassapa pada 1958.

Tokoh lain yang tak kalah penting adalah Bhikkhu Dhammiko Sasanarakkhita Thera atau Ir. Sutopo. Sebagai ahli waris lahan Bukit Kassapa, ia mengorbankan tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk mengembangkan kawasan seluas 82 hektare itu menjadi pusat pembelajaran Buddha-Dhamma.

Setelah puluhan tahun berdiri, jejak sejarah tersebut kini kembali dirawat melalui program pelestarian dan pemugaran. Kegiatan itu berjalan berdasarkan kerja sama antara Yayasan Vajra Dipa, Yayasan Vajra Dwipa, dan Sangha Agung Indonesia yang diperbarui sejak 2020 hingga 2022.

Program pelestarian tidak hanya mencakup pemugaran dan pemfungsian kembali Vihara-Sima 2500 Buddha Jayanti. Pengelola juga merancang pengembangan kawasan sebagai pusat pelatihan bhikkhu dan samanera, termasuk pembangunan sarana pendukung yang menghubungkan kawasan Bukit Kassapa dengan Bukit Klampis Ireng.

Lebih dari sekadar proyek pembangunan, pemugaran ini menjadi upaya menyelamatkan warisan sejarah kebangkitan Buddha di Indonesia. Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, Bukit Kassapa bukan hanya menjadi tempat berziarah, tetapi juga destinasi wisata religi yang menggabungkan sejarah, spiritualitas, budaya, dan keindahan alam dalam satu kawasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....