Pengamat: Nilai Rupiah Merosot, Biaya Hidup Berpotensi Meningkat
- 13 Jun 2026 13:16 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada hari ini, Sabtu, 13 Juni 2026, bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Rupiah sempat menyentuh level tertinggi di Rp18.200 per dolar AS beberapa hari sebelumnya sebelum kembali mengalami sedikit penguatan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian terpuruk hingga melewati batas level psikologis baru, yakni menyentuh kisaran Rp18.100 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi Bayu Bagas mengungkapkan bahwa ada dua faktor utama yang memicu merosotnya nilai tukar rupiah saat ini. Faktor eksternal dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melonjakkan permintaan terhadap mata uang dolar AS, serta kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang tetap mempertahankan tingkat suku bunga tinggi.
Sementara dari sisi domestik, derasnya aliran modal asing yang keluar (capital outflow) memperparah situasi ini. "Kalau di level domestik, kita melihat capital outflow yang berjalan hingga Mei 2026 ini aliran modal asing menurut sejumlah media sampai menembus angka Rp53 triliun, hal ini memaksa Bank Indonesia melakukan intervensi agresif beberapa waktu belakangan," kata Bayu
Dampak Berantai ke Sektor Riil dan Logistik
Menurut Bayu, dampak pelemahan rupiah ini akan segera dirasakan secara nyata oleh masyarakat, baik kelompok menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Unsur pertama yang terdampak adalah biaya logistik yang berbasis dolar AS, salah satunya harga minyak mentah.
Ketika pemerintah membeli minyak dengan dolar yang tinggi, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri otomatis berpotensi naik. Kenaikan BBM ini kemudian memicu pembengkakan ongkos operasional di tingkat teknis.
Selain logistik, sektor manufaktur dan industri yang bergantung pada bahan baku impor juga terancam terganggu.
Komponen seperti kapas, bahan kimia, hingga obat-obatan dipastikan akan mengalami kenaikan harga, yang pada akhirnya menaikkan biaya produksi di berbagai wilayah, termasuk Jawa Tengah. "Komponen harga inilah yang kemudian membuat secara kasat mata masyarakat Indonesia akan merasakan kenaikan harga barang pada level yang paling bawah. Ini yang harus diwaspadai," jelasnya.
Solusi Stabilisasi: Bahan Baku Lokal dan Stimulus BLT
Guna mengantisipasi tekanan ekonomi yang lebih dalam terhadap masyarakat, Bayu menyarankan pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis dari sisi suplai (supply) maupun permintaan (demand). Dari sisi suplai, ia mendorong para pelaku industri untuk memetakan ulang dan mulai beralih dari bahan baku impor ke komponen lokal.
"Meskipun kualitas mungkin tidak mengganti seutuhnya, tetapi setidaknya dengan mengganti bahan baku impor dengan bahan baku lokal, itu sedikit mengurangi dampak kenaikan ini," kata Bayu. Sementara dari sisi permintaan, mengingat penggerak ekonomi nasional saat ini sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga, pemerintah diminta menjaga daya beli masyarakat di tengah maraknya fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Salah satu instrumen yang dinilai tepat saat ini adalah penyaluran subsidi langsung atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).
"Meskipun agak kontra-intuitif, dengan bantuan langsung tunai ini akan memaksa roda pergerakan ekonomi kita menjadi lebih berputar, ketika BLT dilakukan dengan mengombinasikan supply chain lokal, maka masyarakat memiliki penghasilan dan bisa belanja," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....