CJIBF Promosikan 17 Proyek Investasi Unggulan Jawa Tengah

  • 11 Mei 2026 17:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Jawa Tengah kembali membidik potensi investor baru melalui gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026. Sebanyak 17 proyek investasi unggulan di berbagai sektor strategis ditawarkan, mulai dari energi baru terbarukan, hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pertambangan guna memperkuat pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan di provinsi ini.

CJIBF 2026 digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Hotel PO Semarang, Senin, 11 Mei 2026. Forum bertema “Central Java Thriving: Strengthening Investment and Empowering SMEs for Green and Sustainable Growth” itu menjadi ruang mempertemukan investor, pelaku usaha, pembeli internasional, hingga UMKM unggulan Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut dibuka Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Todotua Pasaribu. Sejumlah pemangku kepentingan nasional, investor, serta mitra internasional juga hadir untuk menjajaki peluang investasi di Jawa Tengah.

Ke-17 proyek investasi siap ditawarkan (Investment Project Ready to Offer/IPRO) itu mencakup pembangkit panas bumi Candi Umbul Telomoyo, energi biomassa di Grobogan, industri kelapa terpadu di Cilacap, hingga kawasan industri garam di Brebes. Selain itu, terdapat pula proyek pengembangan wisata Pulau Panjang di Jepara dan Deyangan Resort di kawasan Borobudur.

Calon investor juga dipertemukan dengan empat kawasan industri utama di Jawa Tengah. Kawasan tersebut meliputi Kendal Special Economic Zone, Batang Industropolis Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung sebagai pusat pertumbuhan industri baru.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, iklim investasi Jawa Tengah terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 92 ribu orang di 35 kabupaten/kota.

"Di tahun 2025 investasinya sudah Rp110 triliun, artinya serapan tenaga kerja 424.000. Artinya untuk menumbuhkan ekonomi baru di wilayah kita diperlukan adanya forum-forum yang semacam ini (CJIBF) yang diikuti oleh pemerintah hadir, para bupati, walikota hadir, kemudian pemerintah pusat hadir, BI yang melopori sehingga secara tidak langsung cooperative government yang kita ciptakan akan menumbuhkan ekonomi Provinsi Jawa Tengah," ujarnya.

Kinerja ekonomi Jawa Tengah juga dinilai semakin kompetitif di tingkat nasional. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen, dengan investasi yang tercermin pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 9,61 persen.

Selain forum investasi, rangkaian kegiatan juga diramaikan UMKM Grande 2026 yang digelar pada 7–11 Mei di Atrium Mall Paragon Semarang. Sebanyak 90 UMKM unggulan binaan Bank Indonesia Jawa Tengah dari sektor fesyen, kriya, makanan-minuman, furnitur, hingga kopi dipamerkan dengan semangat “Tumbuh, Tangguh, dan Mendunia”.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menegaskan dukungannya terhadap penguatan investasi dan perdagangan di Jawa Tengah. Menurutnya, CJIBF dan UMKM Grande ini menjadi langkah awal untuk memperluas promosi potensi investasi daerah hingga ke pasar global.

"Tapi kita tidak berhenti di sini. Dalam perkembangannya nanti kita akan coba bawa iPro yang ada di Jawa Tengah ini untuk juga kita promosikan di luar negeri. Kita ada beberapa kantor perwakilan yang siap untuk mempromosikan di luar negeri," ujarnya.

Selain promosi investasi, Bank Indonesia juga akan memberikan dukungan dari sisi kajian ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program beasiswa keterampilan menjadi salah satu fokus yang akan diperkuat pada tahun ini.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Todotua Pasaribu menyebut Jawa Tengah sebagai salah satu daerah strategis bagi investasi nasional. Hal itu ditopang capaian realisasi investasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang kompetitif di tingkat nasional.

"Jawa Tengah tadi yang seperti disampaikan oleh Pak Gubernur adalah salah satu provinsi yang mencapai angka realisasi investasi yang sangat tinggi secara nasional kemudian di kuartal 1 juga di tahun 2026 ini angka realisasi investasinya juga salah satu provinsi yang tertinggi tentunya angka pertumbuhan ekonomi seperti tadi yang disampaikan Pak Gubernur itu sudah mencapai di angka 5,89 persen," katanya.

Todotua menambahkan, pemerintah pusat bersama Pemprov Jawa Tengah dan Bank Indonesia akan terus mengeksplorasi proyek investasi potensial untuk ditawarkan kepada investor domestik maupun asing. Fokus investasi ke depan diarahkan pada hilirisasi industri dan sektor energi hijau (green energy) yang dinilai relevan dengan potensi besar Jawa Tengah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....