Predator Anak Mengintai di Balik Layar Gawai, Orang Tua Jangan Lengah

  • 25 Mei 2026 18:29 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Ruang digital kini menjadi salah satu jalur baru yang perlu diwaspadai orang tua dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Seiring perkembangan teknologi, pola pendekatan pelaku kekerasan seksual atau predator anak disebut semakin beragam dan sulit dikenali secara langsung.

Hal itu disampaikan Psikolog Klinis Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak(UPTD PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB Jawa Tengah, Rosiatun Lutfia Prastiwi. Ia mengatakan, ancaman kekerasan kini tak selalu hadir di dunia nyata.

Menurutnya, pola kekerasan terhadap anak kini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Di balik layar gawai, pelaku dapat menyusup melalui media sosial, aplikasi, hingga game yang selama ini dianggap aman oleh banyak orang tua.

“Modusnya itu semakin beragam. Orang tua mungkin tidak tahu ternyata anak punya kontak dengan orang asing yang sudah melakukan grooming,” katanya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 25 Mei 2026.

Tak hanya melalui media sosial, ancaman juga dapat muncul dari aplikasi atau permainan yang tampak aman bagi anak. Fifi, sapaan akrabnya, menyebut paparan konten seksual maupun kekerasan justru dapat muncul dari iklan pada game yang sebelumnya dianggap tidak berbahaya oleh orang tua.

“Laporan yang masuk justru dari game-game yang tampak tidak berbahaya sebelumnya. Anak bisa terpapar konten seksual ataupun konten yang mengarah pada anarkisme melalui iklan di game,” ucapnya.

Oleh karena itu, orang tua diminta tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga aktif mendampingi anak saat menggunakan teknologi digital. Menurutnya, penggunaan aplikasi perlu disesuaikan dengan usia anak dan tetap berada dalam pengawasan orang tua.

“Untuk anak-anak itu aplikasi yang memang dikhususkan untuk anak dan harus ada pengawasan dari orang tua. Ketika makin remaja boleh menggunakan aplikasi lain, tapi tetap harus ada pendampingan,” ujarnya.

Fifi menegaskan tantangan saat ini bukan melarang anak menggunakan teknologi, melainkan bagaimana orang tua ikut belajar memahami dunia digital. Dengan begitu, orang tua dapat membangun komunikasi yang baik dan lebih mudah mendeteksi ancaman yang mungkin dihadapi anak.

“Kita sebagai orang tua perlu lebih cerdas dan lebih sadar bahwa akses predator itu bisa muncul dari mana saja. Kita perlu membangun relasi yang baik dengan anak sehingga bisa mengawasi dan memberi arah dengan lebih mudah diterima,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....