Tari Bedhaya Ketawang, Nilai Sakralitas dan Kostum Penari

  • 17 Agt 2024 22:05 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta upacara peringatan kenaikan tahta Raja Surakarta. Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian sakral yang suci karena menyangkut nilai nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nama Bedhaya Ketawang berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana/kraton. Sedangkan ketawang berarti angkasa, langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan.

Meskipun Tari Bedhaya Ketawang merupakan hasil warisan dari kesultanan Mataram, namun tari ini hanya dipentaskan di Kasunanan Surakarta. Hal ini sesuai Perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Pembagian wilayah ini juga dibarengi dengan pembagian kebudayaan yang ditinggalkan oleh Kerajaan Mataram, tak terkecuali Tari Bedhaya Ketawang. Penari Bedhaya Ketawang berjumlah 9 orang dengan dengan kostum khusus sebagai ciri khas tari bedhaya.

Dikutip dari Website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI warisan budaya.kemdikbud.go.id Beksan Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian pusaka yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan atau Tinggalan Dalam Jumenengan Paku Buwana.

Busana yang dikenakan para penari Bedhaya Ketawang yaitu dodot ageng atau basahan yang dipadukan dengan kain cindhe kembang warna ungu. Rambut penari dihias dengan gelung bokor mengkurep/tengkurap.

Menggunakan aksesoris seperti kentrung, garuda mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul dan tiba dhadha. Kostum yang digunakan tersebut merupakan kostum pengantin perempuan Jawa Tengah.

Musik yang digunakan untuk mengiringi tari Bedhaya Ketawang adalah gamelan yang terdiri atas lima ricikan/instrumen. Gamelan tersebut yaitu gendhing (kemanak), kala (kendhang), sangka (gong), pamucuk (kethuk), dan sauran (kenong).

Terdapat beberapa aturan yang harus ditaati oleh penonton pada saat pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang berlangsung. Diantaranya, tidak boleh makan, tidak boleh merokok dan harus menjaga ketenangan serta tidak boleh berbicara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....