Beksan Bambangan Cakil, Opera Jawa Tanpa Sepatah Kata
- 29 Jun 2024 07:38 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Tari /Beksan Bambang Cakil adalah tari tradisional dari Surakarta yang di ambil dari cerita pewayangan. Bentuk tarinya sendiri disebut sebagai Wireng, karena sifatnya yang tidak menggunakan percakapan dalam tariannya.
Penonton akan disuguhkan interaksi antara sang tokoh utama dengan lawannya melalui seni tari yang atraktif saja. Tanpa adanya pembicaraan antara tokoh utama dengan musuhnya.
Tari Bambangan Cakil adalah tarian tradisional yang di adobsi dari salah satu adegan dalam cerita pewayangan. Adegan yang diadobsi adalah adegan perang kembang, yang menceritakan peperangan antara kesatria dan raksasa/buta.
Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik yang ada di Jawa khususnya Jawa Tengah. Tari Bambangan Cakil ini menceritakan peperangan antara kebaikan dan kejahatan.
Kedua sifat tersebut di gambarkan dalam gerakan tari tokoh dalam tarian tersebut. Dimana kebaikan yang ada pada tokoh kesatria di gambarkan dengan gerakan yang bersifat halus dan lemah lembut.
Sementara kejahatan pada tokoh raksasa di gambarkan dengan gerakan yang bersifat kasar dan beringas. Tokoh dalam pewayangan yang di gunakan dalam tarian ini adalah Arjuna sebagai Kesatria, dan Cakil sebagai raksasa.
Tarian ini sendiri menggambarkan adegan peperangan antara seorang ksatria Pandawa melawan Cakil, yakni seorang tokoh raksasa. Adapun istilah Bambangan sendiri digunakan untuk menyebut para ksatria keluarga Pandawa seperti Arjuna/Janaka, Angkawijaya/Abimanyu, Bambang Irawan.
Peperangan berakhir dengan tewasnya Cakil, akibat tertusuk kerisnya sendiri. Tarian ini mengandung nilai filosofi yang tinggi dimana kejahatan dan keangkaramurkaan akan kalah dengan kebaikan.
Gerakan dalam Tari Bambangan Cakil ini sangat artistik. Walaupun di adopsi dari cerita pewayangan, tarian tidak di tarikan dengan percakapan.
Namun pesan dan cerita dalam tarian ini tetap tersampaikan melalui alur gerakan para penarinya. Beberapa tokoh kesatria yang termasuk dalam bambangan adalah Irawan, Rama, Pandu, Sumantri, Priyambada, Permadi (Arjuna), Abimanyu, Palasara dan Laksmana.
Beberapa nama sebutan untuk cakil yaitu Gendring Caluring, Kalapraceka, Klanthangmisis, Ditya Kalamarica, Ditya Gendirpenjalin, dan juga Ditya Janggarisrana. Untuk lakon kesatria biasanya akan ditarikan oleh seorang penari yang rupawan, mempunyai fisik yang gagah, serta memiliki keluwesan dalam gerak.
Sedangkan untuk lakon raksasa biasanya akan ditarikan oleh penari yang lincah serta atraktif. Untuk memerankan tokoh dalam Tari Bambangan Cakil ini tentunya ada syarat - syarat tertentu agar tarian terlihat menarik.
Syarat termagsud diantaranya seperti fisik penari, keluwesan dalam menari, dan sifat dari para penari sendiri. Untuk memerankan tokoh kesatria biasanya harus memiliki fisik yang rupawan dan luwes/ lemah lembut.
Sedangkan untuk memerankan tokoh cakil, dibutuhkan kelincahan dalam menari karena sifatnya yang beringas sehingga membutuhkan gerakan yang lebih. Selain itu penari cakil juga harus luwes, karena gerakan tokoh cakil yang cenderung aktraktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....