Karawitan, Bentuk Seni Jawa yang Rumit dan Berbelit
- 16 Jun 2024 22:57 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Karawitan yang berasal dari kata rawit memiliki makna harfiah rumit atau berbelit-belit. Fakta ini mengajarkan bahwa jalan kehidupan manusia itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Pengertian lain, jalan kehidupan manusia terkadang berliku, naik dan turun. Sehingga manusia di tuntut untuk berhati-hati, waspada, dan memiliki keyakinan untuk dapat selamat sampai tujuan.
Sekalipun karawitan itu rumit, berbelit-belit, namun bagi seorang yang bertekad bulat untuk menjadi pangrawit mumpuni akan dapat menguasainya. Agar menguasai ilmu karawitan, seorang harus berlatih intensif, sabar, tidak putus asa, serta menerapkan unggah-ungguh (etika).
Dikarenakan ketika memainkan gamelan, seorang pangrawit berbeda dengan pemain musik modern yang bisa berdiri bahkan berjingkrak sambil memainkan alat musik di atas panggung. Di dalam karawitan, seorang pangrawit tidak hanya dituntut untuk bisa memainkan gamelan, namun juga disarankan untuk mampu memahami ilmunya.
Secara subtansial, karawitan yang berorientasi pada musik gamelan tersebut memiliki laras pelog dan laras slendro. Sebagai bentuk kreasinya, menerapkan sistem notasi, ritme, pathet, aturan garap dalam sajian gending berbentuk instrumentalia, vokalia, maupun campuran.
Disebutkan bahwa gamelan memiliki laras pelog dan laras slendro.
Laras pelog terdiri dari 5 atau 7 nada, yakni: 1 2 3 4 5 6 7 atau C+ D E F# G #A B.
Sedangkan, laras slendro terdiri dari 5 nada, yakni: 1 2 3 5 6 atau C D E+ G A.
Selain laras, gamelan memiliki jenis, macam instrumen (ricikan) dan warna bunyi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....