Bikin Film tanpa Narkoba, Mahasiswa Udinus Ungkap Cara Cari Ide

  • 09 Apr 2026 23:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Mahasiswa Film dan Televisi Universitas Dian Nuswantoro(Udinus) menekankan pentingnya proses kreatif sehat dalam produksi film. Mereka mengandalkan ide orisinal tanpa ketergantungan zat berbahaya.

Proses kreatif dinilai membutuhkan ide kuat yang lahir dari pengalaman dan observasi. Ide menjadi elemen utama yang menentukan kualitas cerita dalam sebuah film.

Ketua Umum HMFTV Udinus, Bintang Denissa, mengatakan ide film umumnya berasal dari pengalaman pribadi. Emosi yang dirasakan menjadi dasar dalam membangun cerita.

“Ide itu mahal karena berasal dari pengalaman pribadi dan emosi yang kita rasakan,” ujarnya. Proses ini membuat setiap karya memiliki nilai autentik.

Menurutnya, menemukan ide tidak bisa dilakukan secara instan. Tim biasanya melakukan diskusi panjang atau brainstorming untuk menentukan konsep cerita.

Ketua Divisi Humas HMFTV, Rofif Abyan Gunadi, menambahkan ide juga berkembang dari interaksi dengan lingkungan. Diskusi dengan teman dan senior menjadi sumber inspirasi.

Pembahasan ini disampaikan dalam dialog di Studio Pro 2 RRI Semarang pada Kamis, 2 April 2026 pagi. Diskusi mengangkat kreativitas sehat dalam produksi film mahasiswa.

Rofif menegaskan proses kreatif tidak membutuhkan narkoba untuk mendapatkan inspirasi. Ia menilai lingkungan dan dukungan teman justru lebih berpengaruh.

“Kita jauh dari narkoba, karena itu bukan solusi tapi malah merusak proses kreatif,” katanya. Ia menilai pemikiran jernih lebih dibutuhkan dalam berkarya.

Bintang menambahkan saat mengalami kebuntuan ide, ia memilih beristirahat atau bertemu teman. Aktivitas santai seperti berbincang justru membantu memunculkan ide baru.

Ia juga menilai keberadaan support system menjadi kunci dalam menjaga semangat berkarya. Lingkungan yang positif membantu mahasiswa tetap produktif tanpa tekanan.

Dalam produksi film, mahasiswa bekerja dalam tim besar yang melibatkan banyak orang. Prosesnya meliputi pra produksi, produksi, hingga pasca produksi selama beberapa bulan.

Rofif menyebut satu proyek film dapat melibatkan 20 hingga 30 orang dalam satu tim. Durasi pengerjaan film bahkan bisa mencapai lima bulan tergantung kompleksitasnya.

Selain sebagai hiburan, film yang dibuat juga memuat pesan sosial. Isu-isu di masyarakat kerap diangkat agar karya lebih bermakna.

Mereka berharap generasi muda lebih menghargai proses kreatif di balik sebuah karya. Mahasiswa juga didorong untuk berkarya secara sehat tanpa narkoba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....