Mau Ikut Mendaki, Ini yang Harus Kamu Pikirkan
- 08 Apr 2026 09:39 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ramainya tren mendaki gunung pernahkah membuat Anda tiba-tiba merasa, “Kayaknya aku juga bisa, deh?”, ditambah dengan merambaknya ajakan teman, foto puncak lewat di layar, bahkan jaket outdoor mulai terasa seperti barang yang wajib dibeli. Namun, sempatkah bertanya ke diri sendiri, ini benar-benar siap, atau sekadar tak ingin tertinggal?
Banyak orang merasa cukup hanya karena terbiasa jalan jauh atau rutin olahraga. Padahal harus dipahami mendaki bukan sekadar kuat jalan di gunung.
Anda melangkah berjam-jam sambil membawa beban, menghadapi jalur yang terus naik turun, suhu yang bisa berubah kapan saja, bahkan kondisi tanpa sinyal. Bagaimana?. Apakah ini membuat Anda ragu? jika iya, mungkin ini memang bukan aktivitas yang bisa dianggap enteng.
| Baca juga: Klenteng Hok Hien Bio Kudus Gelar Ciswak |
Perlengkapan seringnya menjadi urusan belakangan, sepatu? asal ada, tas? asal muat, bahkan jas hujan sekadar cadangan. Tak banyak orang menyadari, sepatu dengan sol licin di jalur basah bisa jadi awal masalah, sepatu daki bukan sekadar merek mahal atau estetika, inilah yang akan menentukan kuatnya pijakan Anda.
Jangan berharap cuaca bisa ditebak sekadar dengan aplikasi, pagi cerah belum tentu berarti perjalanan akan mulus sampai sore, hujan, kabut, dan angin dingin bisa datang tanpa diundang. Jas hujan bukan sekadar pelengkap, lebih baik Anda membawanya dan tidak terpakai, daripada membutuhkannya saat tubuh sudah menggigil.
Soal makan dan minum juga sering dianggap sepele, pernahkah Anda merasa lemas karena telat makan? sayangnya, di gunung kondisi itu bisa menghampiri lebih cepat. Pastikan energi Anda terjamin karena pembekalan pribadi bekal bukan untuk dibagi-bagi di tengah jalur, tapi untuk menjaga diri masing-masing.
Dalam pendakian, bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, ritme perjalanan harus mengikuti yang paling lelah, bukan yang paling kuat. Rasa sungkan untuk bilang capek sering jadi masalah, di gunung, jujur soal kondisi diri justru bentuk tanggung jawab yang paling penting.
Lalu ada satu hal yang sering dihindari, berani untuk ‘turun’, tidak sampai puncak sering dianggap gagal, padahal keputusan untuk berhenti bisa jadi pilihan paling aman. Apalagi jika Anda adalah pemula, ingatlah gunung akan tetap ada, namun keselamatan tidak selalu punya kesempatan kedua.
Gunung tidak pernah memaksa siapa pun untuk sampai puncak, yang sering memaksa justru ego kita sendiri. Keinginan untuk terlihat kuat, tidak mau merepotkan, dan tidak ingin dianggap lemah.
Pendaki yang siap bukan sekadar “Siapa yang paling kuat”, tapi yang berani berkata, “Aku butuh istirahat,” atau “Aku nggak sanggup lanjut.” Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah siap untuk mengatakan demikian?
Ingatlah bahwa mendaki bukan soal seberapa tinggi Anda naik, tapi seberapa mengenal dan sadar tentang kesiapan diri sendiri. Tidak ada foto puncak yang sebanding dengan pulang dengan selamat, dan tidak ada cerita yang lebih layak dibagikan selain cerita tentang kembali dengan utuh. (Tania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....