Mitos Tari Bedhaya Ketawang, Ratu Kidul Hadir Menari

  • 10 Agt 2024 08:02 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Tari Bedhaya Ketawang merupakan sebuah seni pertunjukan warisan budaya yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta. Tari ini merupakan tari kebesaran yang hanya di pertunjukan pada saat penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Keraton Kasunanan Surakarta.

Nama Tari Bedhaya Ketawang diambil dari kata “Bedhaya” yang berarti penari wanita di istana. Ketawang” atau “Tawang” yang berarti langit, atau sesuatu yang tinggi, mulia, dan luhur.

Tari Bedhaya Ketawang dianggap sebagai bedhaya yang tertua dan dijadikan sebagai kiblat dari tari bedhaya lainnya yang lebih muda. Tari ini menceritakan Panembahan Senopati, yaitu raja pertama dari Dinasti Mataram dengan Ratu Kidul.

Dibawakan oleh sembilan orang penari. Dalam pementasannya, konon Nyai Roro Kidul akan ikut menari dan menggenapi jumlah penari menjadi sepuluh orang.

Penari tarian Bedhaya Ketawang tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Terdapat beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh seorang penari Bedhaya Ketawang.

Beberapa syarat tersebut di antaranya:

Para penari harus dalam keadaan suci dan tidak sedang mengalami menstruasi.

Para penari harus masih dalam keadaan perawan.

Para penari berusia antara 17-25 tahun karena masih mempunyai kekuatan untuk menari selama 1,5 jam.
Seorang penari harus memiliki postur tubuh yang proporsional dan memiliki daya tahan tubuh yang baik.

Dan yang terakhir, seorang penari harus melakukan puasa mutih. Yaitu puasa dengan tidak makan selain makanan yang berwarna putih selama beberapa hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....