Sinden dan Perempuan Jawa
- 15 Mei 2024 20:20 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Pesinden atau sinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, yang umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Dalam kamus Bahasa Jawa, sinden adalah penyanyi wanita pada pertunjukan seni gamelan atau wayang golek, wayang kulit, wayang orang dan sejenisnya.
Sedangkan menyinden adalah mengalunkan lagu. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.
Jadi pesinden adalah vokal putri yang menyertai karawitan. Penyebutan lain bagi sinden adalah taledhek, swarawati, waranggana dan widuwati.
Sinden dapat juga disebut waranggana, wara berarti wanita dan anggana berarti sendiri, dalam hal ini berarti wanita sendirian dalam pertunjukan seni karawitan maupun seni pertunjukan wayang. Dalam Kamus Bahasa Kawi waranggana berarti bidadari yang mempunyai keindahan seni suara yang dapat dinikmati bagi penikmatnya.
Beberapa sumber yang dapat menjelaskan kemunculan sinden di telusuri pada kebudayaan jawa berupa peninggalan pada relief candi Borobudur sekitar 1800-an dan candi-candi Prambanan Hindu sekitar tahun 915. Terdapat banyak adegan-adegan gadis-gadis menari, para musisi bermain seruling, sitar, silofon, kuningan, bambu, tanduk, kerang dan simbal serta beberapa orang penyanyi perempuan serta penonton yang menyaksikan.
Adanya sinden seolah memberi penyegaran bagi denyut hidup wanita dalam musik tradisi terutama karawitan Jawa. Dalam perkembangan, pada dekade terakhir ini banyak muncul sinden muda yang piawai dalam berolah vocal.
Ipuk Laswati, seorang pesinden professional dari Grobogan, Jawa Tengah menuturkan bahwa dalam cakepan atau lirik sindenan syarat dengan pesan tentang kabijakan hidup serta piwulang luhur. Dia mencontohkan sebuah cakepan atau lirik dalam Jineman Uler Kambang
Becik apa wong urip neng alam ndonya
(apalah manfaatnya hidup didunia fana)
Ninggal tata klawan udi utama
(meninggalkan aturan syariat hidup)
Yen di gagas sing dawa Urip mung sedhela
(Padahal jika dipikir lebih dalam, hidup hanya sementara)
Bebasane suwe angundhuh kalapa
(Ibarat lebih lama waktunya dibanding singkatnya memetik kelapa)
Rugi gedhe wong nguja hawa nepsune
(Rugi besar manusia mengumbar hawa nafsunya)
Becik nganggo ditimbang bener lupute
(Lebih baik ditimbang baik buruknya)
Miliha dalan sing bener aja mingar minger
(Pilihlah jalan yang benar, jangan gampang terpengaruh)
Yen minger mundhak keblinger
(Kalau terpengaruh pada keburukan, akan tersesat)
Yen wis, Yen wis kebachut mung thenger thenger.
(Kalau jika sudah terlanjur, akan kecewa dikemudian hari)
Agar terwujud capaian rasa gendhing yang ideal dan harmonis penuh nilai estetika, maka semua instrumen harus saling bersinergi, tak terkecuali sinden.
Sinden memegang peran penting dalam sajian karawitan jawa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....