Merasa ditipu, Dasamuka Memporak Porandakan Kahyangan demi Bidadari Idolanya

  • 02 Okt 2026 08:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Dasamuka marah dan berkata, “ Wahai Sukasalya, kamu diam saja seperti barang Mati !!” Karena Dasamuka amat sakti, dengan ucapannya itu seketika Sukasalya tiruan itupun benar-benar mati.

Amarah Dasamuka semakin menjadi dan mempersalahkan para dewa yang dianggapnya menjadu sutradara dari kekecewaan yang terus dialaminya. Raja angkara murka itu segera mengumpulkan para senapati dan pasukan raksasanya untuk menyerang kahyangan Suralaya.

Batara Indra pun datang menjumpai Prabu Dasamuka untuk menyampaikan bahwa kematian Sukasalya adalah karena kata-kata sakti Dasamuka sendiri. Penjelasan Batara Indra tidak memuaskan Dasamuka.

Akibatnya, pertempuran pun terjadi, alhasil bala tentara kahyangan gagal mengusir pasukan kerajaan Alengka pimpinan Dasamuka. Bahkan, pasukan Rahwana menawan Dewi Sayempraba hingga akhirnya Batara Narada terpaksa membuat pernjanjian perdamaian agar Rahwana menghentikan serangannya.

Para dewa akhirnya menghadiahkan tiga orang bidadari lain sebagai pengganti Dewi Sri. Tiga bidadari cantik itu adalah Dewi Tari, Dewi Aswani dan Dewi Triwati.

Dengan membawa tiga bidadari itu sebagai putri boyongan, Dasamuka memerintahkan pasukannya kembali ke Alengka. Tidak berhenti disitu, dalam sebuah versi dikisahkan dia mencintai putri kandungnya sendiri, yakni dewi Sinta.

Kisah diawali pada suatu saat Dasamuka mendapat hadiah bidadari dari Kahyangan bernama Dewi Tari yang kemudian menjadi istrinya. Setelah Dewi Tari mengandung, ahli nujum negara Alengka meramalkan bahwa bayinya setelah dewasa nanti akan diperistri bapaknya sendiri.

Bila hal itu terjadi, malapetaka besar akan menimpa seluruh negeri Alengka. Gunawan Wibisana yang mendengar ramalan itu menjadi cemas, apalagi ternyata Dewi Tari benar-benar melahirkan bayi perempuan.

Ia segera bertindak cepat seizin Dewi tari, ia memasukkan bayi itu kedalam kotak kendaga. Dengan dibekali kupat/ketupat sinta, lalu bayi itu dihanyutkan di sungai.

Sebagai pengganti bayi tersebut, Wibisana kemudian memuja dan mohon pada para dewa agar diberi seorang bayi laki-laki. Para dewa mengabulkan permohonannya, dan dari segumpal awan, diciptakannya seorang bayi laki-laki.

Bayi itu kemudian diakukan sebagai anak Dasamuka yang diberi nama Indrajit atau Begananda. Sementara bayi perempuan yang dihanyutkan, ditemukan dan diangkat anak oleh Prabu Janaka, raja Mantili.

Bayi itu diberi nama Dewi Sinta, kelak setelah dewasa menikah dengan Ramawijaya, putra mahkota Kerajaan Ayodya. Pada awalnya, Prabu Dasamuka tidak percaya bahwa bayi laki-laki yang diakukan itu adalah anaknya.

Karena dia yakin bahwa anaknya adalah bayi perempuan, maka itu Rahwana membanting bayi laki-laki itu ke lantai. Namun ajaib, bayi itu bukan mati melainkan tumbuh menjadi besar.

Berkali-kali Dasamuka membantingnya dengan geram dan berkali-kali pula bayi itu tumbuh semakin besar hingga akhirnya melawan. Rahwana merasa kewalahan menghadapi bayi ajaib tersebut, sehingga terpaksa mengakui bayi itu sebagai anaknya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....