Kisah Watu Telenan di Boyolali, Lingga Kinasih yang Wurung
- 03 Okt 2026 22:32 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pada abad ke-16, ketika pengaruh Majapahit mulai memudar dan fajar Mataram Islam mulai menyingsing. Syahdan, wilayah pedalaman Jawa tengah dipenuhi oleh para pengembara, resi yang menyamar, dan para pembesar kerajaan yang mencari tempat sunyi untuk bermunajat.
Kala itu, Ki Ageng Pamanahan tengah melakukan perjalanan spiritual atas petunjuk sunyi untuk mencari tanah masa depan bagi keturunannya. Dalam perjalanannya melintasi lereng Gunung Merbabu dan Merapi, beliau singgah di sebuah daerah yang subur dan asri, yang kelak dikenal sebagai daerah Pulisen, Boyolali.
Di tempat ini, suasananya begitu tenang, dikelilingi pohon-pohon besar yang rimbun. Ki Ageng Pamanahan bertemu dengan seorang bangsawan muda yang luhur budinya, Pangeran Benawa (putra dari Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang).
Pangeran Benawa yang dikenal memiliki kedekatan spiritual yang kuat, berniat menandai wilayah suci tersebut dengan mendirikan sebuah Lingga (simbol kesuburan dan keagungan). Dan memahat naskah suci kuno pada sebuah batu datar besar. Digunakan oleh sang pangeran sebagai meja kerja, atau dalam bahasa Jawa disebut Telenan (landasan).
Di atas batu telenan itulah, sang pangeran duduk bersila, menyiapkan perkakas pemahat, dan mulai menggoreskan baris-baris kalimat suci. Rencananya, setelah tulisan dan doa selesai dipahat di atas batu telenan tersebut, sebuah lingga batu yang megah akan ditegakkan di sampingnya sebagai pilar peradaban baru.
Mengapa Disebut Lingga Wurung?
Malam itu, suasana sangat hening. Sinar bulan purnama menyinari permukaan batu. Namun, ketika Pangeran Benawa baru saja memulai goresannya dan Ki Ageng Pamanahan sedang khusyuk berzikir, tiba-tiba fajar menyingsing lebih cepat dari biasanya.
Ayam jantan peliharaan penduduk setempat berkokok bersahut-sahutan, menandakan hari sudah pagi. Dalam tradisi mistik Jawa kuno, pembuatan sarana spiritual kedewataan atau keraton harus diselesaikan dalam waktu satu malam sebelum matahari terbit.
Karena fajar telah tiba dan ayam telah berkokok, syarat gaib tersebut runtuh. Ki Ageng Pamanahan kemudian tersenyum bijak dan berkata kepada Pangeran Benawa.
"Ngger Pangeran, Gusti Allah tampaknya menghendaki tempat ini tetap menjadi tanah yang bersahaja. Pembuatan lingga ini harus wurung (batal), karena alam telah terjaga." Pangeran Benawa pun meletakkan pahatnya dengan ikhlas, lingga batu yang sedianya akan dipahat dan ditegakkan di sana akhirnya urung dibuat.
Warisan yang Tersisa
Batu datar raksasa yang sejatinya adalah sebuah struktur megalitik/cagar budaya kuno itu tetap berada di sana hingga berabad-abad kemudian. Masyarakat setempat secara turun-temurun merawat tempat tersebut dan menamakannya Watu Telenan.
Dinamakan watu telenan karena bentuknya yang datar menyerupai talenan kayu tempat memotong. serta sebagai pengingat akan kisah para leluhur yang pernah menjadikannya landasan untuk menuliskan sebuah sejarah yang belum sempat selesai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....