Megatruh Soundsystem Rilis Album Naratif "Heavy Mystical Dub"

  • 01 Mei 2026 22:47 WIB
  •  Semarang

RRI.co.id, Semarang – Megatruh Soundsystem, unit musik asal Kota Yogyakarta merilis album kedua mereka melalui Dugtrax Record yang berjudul Heavy Mystical Dub pada 1 Mei 2026, di tengah peringatan Hari Buruh Internasional. Unit musik ini beranggotakan Kiki Pea dan Ari Hamzah.

Secara keseluruhan album ini berisikan 10 lagu. Dalam proses produksi album Heavy Mystical Dub diproduseri oleh Wok The Rock.

Selain tersedia secara digital, album ini juga akan dirilis dalam format rilisan fisik berupa kaset pita. Perilisan dalam versi rilisan fisik ini dilakukan melalui kolaborasi antara Dugtrax Records, Koloni Rekords, dan Cherrymerch.

Sebagai strategi dalam memperkenalkan album barunya, Megatruh Soundsystem rencananya akan melaksanakan tur yang diberi tajuk “Heavy Mystical Tour”. Dalam tur ini Megatruh Soundsystem akan menyambangi beberapa kota di Jawa Tengah dan DIY seperti Yogyakarta, Surakarta, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Boyolali.

Dalam album ini Megatruh Soundsystem mencoba mengeksplorasi dan meramu musik dub sebagai medium yang spiritual sekaligus politis. Akar dub Jamaika masih lekat terdengar dalam album ini namun divariasikan dengan elemen lokal seperti trance jathilan, ritme ritual, serta pendekatan sonik yang dipengaruhi noise, post-punk, dan darkwave.

Album ini disusun dengan bentuk satu kesatuan naratif dari track pertama hingga track terakhir. Jika didengarkan dengan seksama dan berurutan album ini akan terdengar seperti ritual untuk membuka kesadaran yang membawa pada inti kemanusiaan.

Track pertama album ini dibuka secara instrumental dalam “Purwaka Riddim”. Kemudian, menuju “Sang Hyang Mahatinggi” yang mengajak pendengar menuju dimensi spiritual.

Setelah itu pendengar akan dibawa ke track “Berlumuran Darah” yang menceritakan kehidupan manusia yang mengalami kekerasan struktural. Dilanjut dengan “Turangga Bhairawa” yang menyimbolkan kebangkitan bawah sadar.

Fase puncak narasi album ini dimulai dalam track “Jagad Amuk Rakyat” yang berisikan keresahan kaum pekerja, diteruskan “Murub Geni Ngalawan Dhurga” yang terdengar serupa mantra ketidaksetujuan pada kehancuran ekologis. Kritik-kritik tersebut kemudian dipertegas dalam “Palu Kuasa”.

Terdapat satu track yang berjudul “Sesungguhnya Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa” yang berisikan potongan pidato tokoh-tokoh dunia dalam perjuangannya melawan kolonialisme, rasisme, fasisme, dan bentuk penindasan lainnya. Salah satunya potongan pidato Bung Tomo pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945 juga dimuat di dalamnya.

Di tengah konflik yang ada, “Tari di Medan Api” menyajikan ironi apabila manusia tetap berdansa sebagai bentuk bertahan hidup. Album ini ditutup dengan track “Genggam Tanganku” yang merefleksikan harapan di tengah dunia yang tidak pasti.

Melalui Heavy Mystical Dub, Megatruh Soundsystem mencoba menyajikan karya yang memuat aspek spiritualitas, kritik sosial, dan realitas kelas pekerja. Secara keseluruhan album ini tidak hanya untuk didengarkan tapi mencoba untuk dimaknai pendengar yang sedang mencari makna dan bertahan dalam dunia yang penuh gejolak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....