Fenomena “SEAblings”, saat Warganet Asia Tenggara Bersatu
- 14 Feb 2026 19:30 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang: Perdebatan antara warganet Korea Selatan dengan Asia Tenggara, memanas di media sosial X. Bermula dari masalah pelanggaran saat konser musik, warganet yang mengusung tagar “SEAblings” ini menjelma menjadi solidaritas daring secara internasional.
Awal mula perdebatan warganet Korea Selatan yang disebut Knetz dengan warganet Asia Tenggara, dipicu insiden di konser Day6 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sejumlah fansite Korea Selatan tertangkap menggunakan kamera DSLR lensa panjang, yang ternyata dianggap mengganggu penonton lain.
Tindakan itu terekam salah satu warganet Malaysia, yang kemudian menjadi viral di media sosial sekaligus memantik reaksi Knetz. Sayangnya reaksi yang muncul dari sebagian warganet ini, justru menyerang Malaysia hingga muncul hinaan berbau rasialis pada masyarakat Asia Tenggara.
Ejekan berupa fisik, bahasa, hingga kondisi sosial dan ekonomi terhadap warganet Asia Tenggara ini memunculkan aksi solidaritas. Warganet dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan negara Asia Tenggara lainnya kemudian “bersatu” dan dikenal sebagai “SEAblings”.
SEA mengacu pada singkatan dari South East Asia, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Asia Tenggara. Sementara “blings” mengacu pada kata siblings, yang diartikan sebagai saudara sebagai bentuk persatuan dari warganet sejumlah negara di Asia Tenggara itu.
Tagar dan kata “SEAblings” akhirnya digunakan di X, untuk “membalas” serangan Knetz dalam berbagai bentuk dari meme hingga cuitan panjang. Alhasil kata “SEAblings” sempat menjadi trending topic di aplikasi tersebut, karena digunakan secara masif oleh warganet.
Selain menjadi bentuk solidaritas antar warganet, “SEAblings” juga terbilang unik karena melibatkan balasan-balasan yang lucu dari warganet. Meskipun juga banyak warganet dari Korea Selatan, yang juga menyayangkan terjadinya perdebatan yang berujung komentar rasialis tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....