Pasang Surut Kesenian Wayang Potehi di Jawa

  • 23 Jan 2026 11:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Wayang Potehi merupakan produk kesenian asal Tiongkok yang berkembang di Jawa. Eksis sejak abad ke 16 M, wayang potehi telah mengalami pasang surut masa kejayaan sebagai salah satu kesenian yang berhasil merebut hati masyarakat Nusantara.

Secara bahasa, potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantong), dan hi (wayang). Artinya, wayang potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain.

Menurut International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences (2019), kesenian ini sudah eksis sejak masa Dinasti Jin Tiongkok (265–420 M). Selain itu, ada pula yang menyebutkan, kesenian ini berakar dari seni pertunjukan boneka pada Dinasti Han Tiongkok (206–220 M).

Keberadaan wayang potehi di Nusantara tercatat dalam catatan Jawa, tepatnya naskah Malat dan Nawaruci. Kedua naskah tersebut ditulis pada masa Kerajaan Majapahit, sekitar abad 16 M, berbarengan pada masa Dinasti Ming Tiongkok.

Dalam pementasannya, terdapat lima individu yang berperan sebagai pemain musik, dalang, dan asisten. Dengan anggota yang sedikit, para pemain diharuskan memahami cerita supaya dapat menghidupkan suasana.

Selain sebagai media hiburan, terdapat nilai-nilai kehidupan yang terbungkus dalam cerita yang disampakan. Kesenian ini banyak mengambil dari kisah tradisional Tiongkok, salah satu yang terkenal adalah kera sakti.

Sempat mengalami masa jaya, kesenian yang dipentaskan saat Imlek dan Cap Go Meh ini memudar ketika Orde Baru. Selain karena faktor eksternal yang berasal dari luar kalangan masyarakat Tionghoa, kemunduran juga terjadi karena faktor internal.

Wayang potehi yang berakar dari budaya Tiongkok justru diwariskan oleh masyarakat Jawa. Menurut Melville J. Herskovits dalam jurnal Cultural Anthropology and Cultural Change, generasi muda cenderung kurang tertarik pada tradisi akibat perubahan sosial dan modernisasi.

Penelitian Herskovits menekankan bahwa perubahan orientasi nilai generasi muda memengaruhi keberlanjutan budaya tradisional. Hal ini berdampak pada proses pewarisan seni pertunjukan lintas generasi.

Di Kota Semarang, wayang potehi masih eksis, meski mengalami kondisi penurunan minat dan minimnya pewarisan yang serupa. Beberapa tempat seperti Kelenteng Tay Kak Sie, Pasar Imlek Semawis, dan Kelenteng Sam Poo Kong masih menjadi lokasi pementasan. (Wohingati)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....