Big Ocean: Grup K-pop Penyandang Tuli Pertama
- 04 Des 2025 21:25 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Dunia K-pop kini memasuki bab baru dengan hadirnya Big Ocean. Grup asal Korea Selatan ini debut pada 20 April 2024 sebagai boyband pertama yang seluruh anggotanya memiliki gangguan pendengaran serius. Kehadiran mereka menjadi tonggak penting dalam representasi penyandang disabilitas di industri musik global.
Big Ocean dibentuk oleh Parastar Entertainment yang fokus merangkul talenta dengan disabilitas. Grup ini beranggotakan Lee Chan-yeon, Park Hyun-jin (PJ), dan Kim Ji-seok. Masing-masing anggota memiliki tingkat kehilangan pendengaran yang berbeda sejak kecil hingga remaja.
Debut mereka bertepatan dengan Hari Penyandang Disabilitas Korea dengan single pertama berjudul Glow, remake dari lagu grup H.O.T. Lagu tersebut dipadukan dengan koreografi dan bahasa isyarat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa musik dapat diakses tanpa bergantung sepenuhnya pada kemampuan mendengar.
Untuk mengatasi tantangan pendengaran, Big Ocean mengandalkan teknologi pendukung seperti jam tangan bergetar dan metronom visual. Beberapa anggota juga menggunakan hearing aid maupun cochlear implant. Alat tersebut membantu mereka menjaga ritme, sinkronisasi, dan performa di atas panggung. Hal ini memungkinkan mereka menyinkronkan tarian, vokal, dan penampilan layaknya idol K-Pop pada umumnya.
Banyak orang sempat mempertanyakan kemampuan grup tuli untuk tampil seperti idol K-pop lain. Namun Big Ocean membuktikan bahwa hambatan fisik tidak menghalangi ekspresi musikal. Mereka memperkenalkan gaya yang sering disebut “S-Pop” atau Sign Language Pop dengan menggabungkan bahasa isyarat ke dalam penampilan mereka.
Respons publik terhadap debut mereka relatif positif dan mendapat dukungan dari komunitas tunarungu. Banyak penyandang disabilitas merasa terwakili oleh kehadiran grup ini. Big Ocean dinilai memberikan ruang baru bagi keberagaman dan partisipasi inklusif dalam budaya populer.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa musik tidak semata diukur dari kemampuan mendengar. Esensi musik terletak pada ritme, gerak, dan ekspresi yang mampu menjangkau berbagai kalangan. Big Ocean menegaskan bahwa kreativitas dapat melampaui batas fisik sekaligus memperluas makna pertunjukan musik.
Kehadiran Big Ocean mendorong perubahan pandangan publik mengenai siapa yang dapat menjadi idol. Mereka menunjukkan bahwa teknologi, semangat, dan inovasi dapat menjembatani keterbatasan. Big Ocean menjadi contoh bagaimana inklusivitas dapat hadir secara nyata dalam industri hiburan modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....