Sekilas Tentang Sosok Togog Bilung dalam Dunia Pewayangan

  • 06 Des 2024 10:36 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Pertunjukan wayang Purwa selalu ditampilkan dengan adanya perang kembang antara buta Prapat dan kesatriya. Menurut Serat Sekar Jinarwi oleh Sri Harto Jati perang berarti pamerangan (Jawa) yaitu menerangkan secara simbolis alur jalannya kehidupan untuk sampai pada kecerahan (eling).

Togog dan bilung dipihak raksasa pemakan daging sebagai simbul pengumbar nafsu kadagingan manusia. Nafsu kadagingan contoh makan, minum, sahwat dan semua keinginan.

Togog ditemani Bilung bangsa siluman yg bernama sara wita yg sangat hebat dalam pengabdian atau kemelekatanya terutama pada nafsu kedagingan tak terpisahkan. Togok dan bilung adakah unsur inti dari kehidupan tidak bisa tidak harus ada demi kelangsungan hidup maju dan berkembang.

Bilung Bangsa siluman artinya tidak kelihatan dengan mata contoh keinginan yg dilambangkan rambut billung yg brintik dan merasa kalah. Dilambangkan waktu menari dilempar pethel (kampak) oleh Petruk.

Bilung dan togog adalah dua unsur kehidupan duniawi, Bilung adalah rasa iri atau rasa kalah. Togog adalah rasa sombong rasa menang.

Kedua sifat itulah yg membuat cerita dunia pewayangan hidup. Rasa kalah saat menghadapi kehidupan yg sulit dilambangkan dengan Bilung, sementara Jiwa Togognya hidup dengan memeras isi kepala besar, mata besar akhirnya menemukan alat atau cara untuk mengatasi kehidupan lalu merasa menang (sombong).

Bilung dengan melihat kemajuan negara lain lalu merasa kalah/iri timbulah jiwa togog untuk berkarya. Sifat unsur kehidupan harus bisa dikendalikan yaitu dengan menghidupkan jiwa yg lebih halus di dalamnya (Punakawan).

Semua berjalan secara alami layaknya manusia dari fase bayi hingga fase tua, getaran frekwensi jiwa akan menyesuaikan pengendalian nafsu menuju ke frekwensi gelombang datar (menep).

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....