Kekeringan Melanda, Biaya Produksi Petani Padi Demak Naik Dua Kali Lipat

  • 16 Sep 2026 10:11 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Demak – Kemarau ekstrem membuat biaya produksi petani padi di Kabupaten Demak melonjak lebih dari dua kali lipat. Pada musim tanam ketiga (MT 3), petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air agar tanaman tetap bertahan dan tidak mengalami gagal panen.

Salah satu petani yang merasakan beratnya dampak kekeringan adalah Subkhi, warga Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam. Ia menggarap sawah sewaan seluas sekitar 1.000 meter persegi yang saat ini ditanami padi berusia sekitar satu bulan.

Untuk mempertahankan tanaman, Subkhi harus mencari sumber air alternatif. Air dari saluran pembuangan permukiman ditampung terlebih dahulu di kubangan yang dibuat secara mandiri, kemudian dipompa menuju lahan sawah.

Ia juga harus menyalakan mesin diesel untuk menyedot air. Bahkan, dalam kondisi tertentu Subkhi rela bermalam di sawah untuk memastikan pasokan air tetap berjalan dan tanaman mendapatkan pengairan.

“Masalahnya air, kurang. Air buangan dari kampung, perumnas dan pondok saya tampung di kubangan. Kalau normal sekitar Rp20 juta sudah termasuk pupuk sampai panen, sementara saat ini mulai tandur dan memupuk saja sudah Rp40 juta, kalau ditotal dengan tenaga dan lainnya sekitar Rp50 juta lebih,” katanya, saat ditemui Rabu 16 September 2026.

Menurut Subkhi, kondisi tersebut membuat sebagian tanaman padi mengalami kerusakan karena tidak mendapatkan pengairan secara optimal.

Kondisi serupa dirasakan Ahmad Husein, untuk mendapatkan air, ia harus mengatur jadwal penyedotan secara bergantian dengan petani lain karena jika dilakukan bersamaan, debit air akan cepat berkurang.

“Kalau menyedot bersama-sama, airnya cepat habis. Kalau bergantian dua atau tiga orang masih lancar,” ujarnya.

Selain persoalan air, keterbatasan modal juga menjadi kendala bagi Husein, terutama untuk memenuhi kebutuhan pupuk. Ia terpaksa berutang kepada toko pertanian, bahkan sebagian lahan yang digarapnya tidak ditanami padi karena sulit mendapatkan pasokan air.

“Kalau ongkos sekarang lebih besar karena tambah bensin. Saya tidak punya uang, kalau mau beli pupuk ya minta dulu ke toko atau utang,” katanya.

‎‎

Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto mengatakan sekitar 1.200 hektare sawah terdampak kekeringan dan terancam gagal panen. Pemkab Demak kemudian berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta kementerian terkait untuk menggelontorkan air dari saluran irigasi Sungai Tuntang, yang diperkirakan mampu menyelamatkan sekitar 1.100 hektare tanaman padi.

“Dari sekitar 1.200 hektare yang terdampak, sekitar 1.100 hektare tanaman padi. Tanaman padi ini mudah-mudahan bisa terselamatkan,” kata Akhmad, Rabu 16 September 2026.

Sementara sekitar 100 hektare lahan yang belum terjangkau irigasi, terutama di Kecamatan Karangtengah dan Guntur, diupayakan mendapat pasokan melalui pompa air. Bantuan pompa juga diarahkan ke lahan palawija dan disiapkan bantuan pangan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Distribusi beras dilakukan per desa, dengan rata-rata satu ton dan sekitar 30 kilogram untuk setiap keluarga penerima manfaat.

"Langkah tersebut dilakukan agar ancaman kemarau tidak hanya ditekan pada sektor pertanian. Diharapkan tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat Demak," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....