Dari Kota Tua ke Elephant Rock, Menyusuri Jejak Sejarah Al Ula
- 29 Agt 2026 11:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID., Semarang - Bayangkan berjalan menyusuri lorong-lorong sempit dengan bangunan tanah liat yang berdiri kokoh. Di kanan dan kiri, jejak kehidupan masa lalu masih terasa.
Inilah Kota Tua Al Ula, sebuah kawasan yang membawa siapa pun untuk sejenak menengok perjalanan panjang peradaban di jantung Arab Saudi. Pemandangan itu menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa KKN Internasional Arab Saudi UIN Walisongo Semarang saat mengunjungi Al Ula, Senin, 25 Agustus 2026.
Bagi para mahasiswa, perjalanan ini bukan sekadar melepas penat di tengah kegiatan KKN. Al Ula justru menjadi ruang belajar terbuka, tempat mereka dapat melihat langsung bagaimana sejarah, kebudayaan, masyarakat, hingga alam berpadu membentuk sebuah kawasan.
Langkah mereka dimulai dari Kota Tua Al Ula. Bangunan-bangunan tradisional, lorong permukiman, dan suasana khas kawasan bersejarah membawa mahasiswa membayangkan kehidupan masyarakat Al Ula pada masa lampau.
Di tempat ini, sejarah tidak hanya hadir dalam buku atau cerita. Ia hadir melalui bangunan yang mereka lihat, jalan yang mereka lewati, dan lingkungan yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Perjalanan kemudian membawa mahasiswa melihat wajah Al Ula yang berbeda. Dari Kota Tua, mereka menuju Kota Muda atau New Town.
Jika Kota Tua memperlihatkan jejak masa lalu, New Town menghadirkan wajah Al Ula yang terus bergerak menuju masa depan. Infrastruktur dan perkembangan kawasan menunjukkan bagaimana modernisasi berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan identitas sejarah dan budaya.
Namun perjalanan belum berhenti.
Satu destinasi yang paling mencuri perhatian adalah Elephant Rock atau Jabal Al-Fil. Dari kejauhan, formasi batu raksasa itu tampak menyerupai seekor gajah yang sedang berdiri di tengah hamparan gurun.
Batuan alami tersebut terbentuk melalui proses geologis yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Berdiri di hadapannya, mahasiswa tidak hanya melihat sebuah ikon wisata, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana alam membentuk lanskap Al Ula selama ribuan hingga jutaan tahun.
Bagi Naila, salah satu mahasiswa KKN Internasional Arab Saudi, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati pemandangan.
Menurutnya, perjalanan ke Al Ula memang memanjakan mata, tetapi pada saat yang sama juga memberikan pengalaman dan pembelajaran baru yang memperluas wawasan.
Perjalanan dari Kota Tua, menyusuri perkembangan New Town, hingga berdiri di hadapan Elephant Rock akhirnya menjadi perjalanan tentang waktu.
Mahasiswa tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka seperti diajak menyusuri tiga wajah Al Ula, sejarah, perkembangan, dan alam.
Dari perjalanan itu, ada satu pelajaran yang mungkin paling berharga: bahwa sebuah tempat tidak pernah hanya tentang apa yang terlihat.
Di balik bangunan tua, ada cerita tentang manusia. Di balik kota yang berkembang, ada perjalanan panjang sebuah masyarakat. Dan di balik batu raksasa di tengah gurun, ada kisah tentang kekuatan alam yang bekerja dalam rentang waktu yang jauh melampaui kehidupan manusia.
Bagi mahasiswa KKN Internasional Arab Saudi UIN Walisongo Semarang, Al Ula pun menjadi lebih dari sekadar destinasi perjalanan. Ia menjadi pengalaman belajar lintas budaya yang akan menjadi bagian dari cerita mereka selama menjalani pengabdian di Arab Saudi.
Sebab pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan hanya tentang tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi tentang pengetahuan dan pengalaman yang ikut dibawa pulang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....