Sebungkus Roti hingga Uluran Tangan, Kisah Mahasiswa KKN Berbagi di Tanah Suci
- 17 Agt 2026 13:00 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Mahasiswa KKN Internasional Arab Saudi UIN Walisongo Semarang menjalankan program Jum'at Berkah dengan membagikan roti, wafer, dan air mineral kepada jamaah di sekitar Masjidil Haram.
- Program ini memasuki pekan keempat dan melibatkan kolaborasi antara mahasiswa UIN Walisongo Semarang dengan Tim Student Mobility Internasional UIN Antasari Banjarmasin.
- Kegiatan berbagi sedekah dilakukan di empat titik strategis sekitar Masjidil Haram pada 14 Agustus 2026 sebagai wujud misi sosial mahasiswa selama menjalankan ibadah.
RRI.CO.ID, Makkah – Di tengah padatnya aktivitas jamaah di sekitar Masjidil Haram, sekelompok mahasiswa membawa roti, wafer, dan air mineral. Mereka datang bukan sekadar untuk beribadah, tetapi juga membawa misi sederhana: berbagi kepada sesama melalui program Jum’at Berkah.
Program yang telah memasuki pekan keempat itu kali ini berlangsung berbeda. Mahasiswa KKN Internasional Arab Saudi UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Tim Student Mobility Internasional UIN Antasari Banjarmasin untuk membagikan sedekah kepada jamaah di empat titik sekitar Masjidil Haram, Jumat, 14 Agustus 2026.
Kolaborasi tersebut bermula dari pertemuan kedua kelompok mahasiswa yang sama-sama menjalankan kegiatan pengabdian di Sekolah Indonesia Makkah. Dari pertemuan itu muncul gagasan untuk saling berbagi peran melalui kegiatan sederhana yang memiliki nilai sosial.
Bagi salah satu anggota KKN Internasional UIN Walisongo sekaligus penanggung jawab program Jum’at Berkah, Muhammad Farrel, keterlibatan mahasiswa UIN Antasari menjadi pengalaman tersendiri. “Saya sangat senang karena teman-teman dari UIN Antasari bersedia berkolaborasi dalam pembagian Jum’at Berkah pekan keempat ini,” ujar Farrel.
Bagi mahasiswa UIN Antasari, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk lebih dekat dengan suasana Masjidil Haram. “Program kerja kami fokus pada pengabdian di sekolah soalnya,” tuturnya.
Jarak sekitar 20 menit dari tempat tinggal menuju Masjidil Haram membuat kesempatan mereka mengunjungi kawasan tersebut tidak terlalu sering. Oleh karena itu, kegiatan Jum’at Berkah menjadi pengalaman yang mempertemukan dua kelompok mahasiswa sekaligus membawa mereka sejenak keluar dari rutinitas pengabdian di sekolah.
Pembagian sedekah berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit. Setelah seluruh makanan dan minuman dibagikan, masing-masing kelompok bersiap meninggalkan kawasan Masjidil Haram untuk melaksanakan salat Maghrib.
Namun, perjalanan kelompok kedua justru menghadirkan pengalaman yang tidak mereka rencanakan. Di tengah kegiatan, dua jamaah umrah asal Indonesia menghampiri mahasiswa karena mengalami kesulitan menemukan tempat tujuan.
Seorang jamaah perempuan berasal dari Padang, Sumatra Barat, sedangkan seorang jamaah laki-laki berasal dari Jawa Timur. Keduanya membutuhkan bantuan, meski dalam situasi yang berbeda.
Untuk jamaah perempuan, mahasiswa terlebih dahulu memeriksa nomor Tour Leader yang tercantum pada kartu identitas melalui Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh).
Setelah berhasil menghubungi Tour Leader dan mendapat kepastian bahwa jamaah tersebut akan dijemput, mahasiswa tidak perlu mengantarkannya hingga ke hotel.
Sementara itu, jamaah laki-laki mengaku baru dua hari berada di Makkah sehingga belum mengenal lingkungan sekitar. Nomor Tour Leader yang tercantum pada kartu identitasnya juga tidak dapat dihubungi.
Mahasiswa kemudian memutuskan mengantarkan jamaah tersebut langsung menuju hotel berdasarkan data yang tercantum dalam Siskopatuh. Sesampainya di lokasi, mereka memastikan terlebih dahulu bahwa hotel tersebut memang tempat jamaah itu menginap.
“Alhamdulillah, hotelnya sesuai dengan yang tertera di kartu identitas. Bapaknya juga mengakui bahwa itu benar hotel tempat beliau menginap, jadi kami tidak perlu bingung mencari Tour Leader-nya,” ujar salah satu anggota tim.
Bagi para mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan makna lain tentang pengabdian. Berbagi ternyata tidak selalu berhenti pada sesuatu yang diberikan dalam bentuk makanan atau minuman.
Dalam situasi tertentu, bantuan sederhana seperti menunjukkan jalan, menemani seseorang hingga menemukan tempat tujuan, atau memastikan orang lain kembali ke tempat yang aman juga menjadi bentuk kepedulian. Setelah memastikan kedua jamaah mendapatkan bantuan, mahasiswa kembali menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah.
Seusai salat, kedua kelompok kemudian bertemu di kawasan Jabal Omar. Mereka berbagi cerita mengenai pengalaman masing-masing selama menjalankan kegiatan pengabdian di Makkah.
Pertemuan berlangsung hangat meski tidak lama. Mahasiswa KKN Internasional UIN Walisongo harus segera kembali untuk mempersiapkan kegiatan berikutnya, yakni pendampingan jamaah.
Dari pertemuan singkat tersebut, satu pelajaran penting kembali mengemuka: kolaborasi tidak selalu membutuhkan program besar. Dari kegiatan sederhana, mahasiswa dua perguruan tinggi dapat saling mengenal, bertukar pengalaman, sekaligus belajar melihat kebutuhan orang lain di tengah aktivitas mereka di Tanah Suci.
Jum’at Berkah akhirnya bukan hanya tentang membagikan sedekah. Di antara padatnya kawasan Masjidil Haram, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar tentang kepedulian, kerja sama, dan bagaimana keberadaan mereka di Makkah dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Sebungkus roti mungkin hanya menjadi bentuk kecil dari berbagi. Namun di Tanah Suci, langkah sederhana itu membawa mereka pada sebuah pengalaman yang lebih luas: memberi, menolong, dan memastikan sesama tidak merasa sendirian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....