Koleksi Kain Batik, Cara Sederhana Gen Z Ekspresikan Cinta Tanah Air
- 04 Agt 2026 12:16 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Memilih produk UMKM lokal, salah satunya batik menjadi salah satu cara sederhana bagi Generasi Z untuk menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia, sekaligus mendukung perekonomian bangsa. Saat ini, banyak anak muda yang telah mengoleksi pakaian batik dengan berbagai model.
Apalagi, Batik merupakan identitas nasional yang kini terus berinovasi menjadi berbagai macam model fashion kekinian. Kini, batik tidak lagi identik dengan busana resmi atau pakaian orang tua saja, sehingga semakin diminati generasi muda dan menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
Warga Semarang, Aurel Theresiana, menjadi salah satu anak muda yang bangga mengenakan batik dalam berbagai aktivitas. Ia mengaku memiliki sekitar lima koleksi batik dengan model dan warna yang berbeda-beda.
Salah satu koleksi favoritnya dibeli saat berkunjung ke Pasar Klewer, Solo. Awalnya ia hanya menemani sang ibu berbelanja, namun tertarik melihat deretan batik dengan desain modern yang dipajang di kios.
"Waktu itu saya melihat batik model outer warna biru dengan motif yang menarik. Harganya sekitar Rp75 ribu dan setelah ditawar menjadi Rp70 ribu, saya beli," ujarnya, Selasa 4 Agustus 2026.

Menurut Aurel, batik saat ini hadir dengan model yang lebih kekinian sehingga membuat anak muda semakin percaya diri mengenakannya.
"Saya sering memakai batik, yang penting modelnya bagus, cutting-nya cocok, dan motifnya menarik. Menurut saya batik harus terus diinovasi supaya mengikuti perkembangan zaman. Dengan begitu anak muda tetap bangga memakainya," katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Alya Khairunisa (21), mahasiswi Jurusan Sastra Universitas Negeri Semarang (Unnes) asal Bogor. Di lemari pakaiannya tersimpan berbagai koleksi batik, mulai dari baju, rok, celana hingga daster batik yang digunakan untuk berbagai kesempatan.
Alya mengaku mulai menambah koleksi batiknya setelah berbelanja di Pasar Grosir Batik Setono, Kota Pekalongan. "Waktu itu saya memang mencari daster batik, pilihan warnanya banyak, ada hijau, merah, dan kuning, modelnya juga bagus sehingga cocok dipakai sehari-hari," ujarnya.
Tak hanya saat menghadiri acara resmi, Alya juga mengenakan batik ketika kuliah, menghadiri undangan pernikahan hingga berkumpul bersama keluarga saat Lebaran. “Saya paling suka motif Mega Mendung karena cantik, motif burung merak juga menarik," katanya.

Fenomena meningkatnya minat anak muda terhadap batik juga diamati Fatimatuz Zahra, perempuan asal Kota Pekalongan yang berasal dari keluarga pengrajin batik. Menurutnya, perubahan fungsi batik dari busana formal menjadi pakaian sehari-hari merupakan perkembangan yang positif.
"Menurut saya bagus karena sekarang batik tidak hanya dipakai untuk acara formal, tetapi juga bisa dipakai sehari-hari. Anak muda juga semakin sering memakai batik karena model bajunya sudah lebih modern," ujarnya.
Keluarga Zahra telah lama memproduksi kain batik yang dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, dan Solo. Selain memproduksi kain, anggota keluarganya juga mengembangkan berbagai produk fesyen berbahan batik, mulai dari pakaian hingga tas.
Meski demikian, Zahra menilai pelaku industri batik masih menghadapi tantangan. Para pengrajin harus terus mengikuti perubahan tren fesyen yang berlangsung sangat cepat.

"Tantangannya memang mengikuti perkembangan model. Kadang pengrajin masih mempertahankan pakem lama, padahal untuk kebutuhan fesyen sehari-hari perlu ada inovasi agar sesuai dengan selera pasar, terutama anak muda," ungkapnya.
Selain inovasi desain, menurut Zahra, pemasaran digital juga menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM batik. Keluarganya kini mulai memanfaatkan siaran langsung di media sosial untuk menjangkau Masyarakat yang lebih luas.
"Kalau di keluarga saya sekarang sudah mengikuti perkembangan zaman juga. Penjualan dilakukan secara online dan memanfaatkan live TikTok supaya bisa menjangkau lebih banyak pembeli," katanya.
Batik telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mengenakan batik tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga mencerminkan nasionalisme ekonomi.
Setiap pembelian produk batik lokal berarti turut mendukung keberlangsungan para perajin, membuka peluang usaha bagi UMKM, serta menjaga agar warisan budaya Indonesia tetap hidup dan terus berkembang mengikuti zaman. Bagi generasi muda seperti Aurel, Alya, dan Zahra, batik bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....