Kisah Alza, Penerima KIP-K di Undip yang Sukses Raih Karier Sebelum Lulus

  • 04 Agt 2026 05:02 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Senyum tak pernah lepas dari wajah Smile Alza Fauzi saat mengenakan toga wisuda Universitas Diponegoro (Undip). Di balik pencapaian itu, tersimpan perjalanan panjang seorang anak dari keluarga sederhana yang sejak kecil mengandalkan beasiswa untuk menggapai pendidikan, hingga akhirnya berhasil memperoleh pekerjaan bahkan sebelum resmi meninggalkan bangku kuliah.

Alza merupakan lulusan Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip yang diwisuda pada Wisuda Undip ke-183 Tahap V, Jumat, 31 Juli 2026. Sejak SD, SMP, SMA hingga kuliah melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), beasiswa menjadi jembatan yang membawanya terus melangkah mengejar cita-cita.

“Saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya sejak SD, SMP hingga SMA karena Alhamdulillah mendapatkan beasiswa dari sekolah. Itu sangat membantu orang tua saya dalam meringankan beban finansial,” kenangnya dalam keterangan tertulis Senin 3 Agustus 2026. Alza, lulusan Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai karyawan usaha pemotongan ayam, sedangkan sang ibu adalah ibu rumah tangga.

Namun, keterbatasan ekonomi tidak pernah membatasi semangat belajarnya. Sejak sekolah dasar, Alza aktif mengikuti berbagai olimpiade, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN), olimpiade biologi hingga matematika. Prestasi akademik yang diraihnya membuat ia terus memperoleh beasiswa di setiap jenjang pendidikan.

Tidak hanya unggul di kelas, Alza juga aktif berorganisasi. Saat sekolah ia mengikuti OSIS, Palang Merah Indonesia dan Pramuka. Bekal itu membentuk keberaniannya ketika memasuki dunia perkuliahan.

Selama kuliah di Undip semangat itu justru semakin berkembang. Ia bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa, Society of Renewable Energy, aktif dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan penelitian mengenai alga, hingga mengikuti ajang Mas dan Mbak Universitas Diponegoro. Pada tahun 2024, Alza berhasil terpilih sebagai perwakilan Mas FPIK.

Meski seluruh biaya kuliah, UKT, hingga bantuan biaya hidup telah ditanggung melalui KIP-K, Alza memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan tersebut. Memasuki semester lima, ia mulai bekerja sambilan di beberapa tempat. Bukan untuk gaya hidup. Melainkan agar bisa membayar kebutuhan kuliah yang belum sepenuhnya tercukupi, seperti biaya praktikum dan kebutuhan hidup lainnya.

Dari hasil bekerja sambilan itu, Alza berhasil membeli laptop yang menunjang perkuliahannya. Bahkan, ia mampu membeli sepeda motor yang memudahkan mobilitasnya.

“Saya nyambi kerja sambil tetap harus mempertahankan IPK agar beasiswa KIP-K tetap berjalan. Hasil bekerja saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi, termasuk biaya praktikum. Dari hasil itu saya bisa membeli laptop dan sepeda motor,” ujarnya.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Di balik berbagai prestasi yang diraihnya, ada masa-masa ketika ia hampir menyerah.

“Saya berulang kali hampir menyerah terhadap kuliah saya, rasanya ingin menyudahi semuanya. Namun, saya punya satu tekad, saya ingin menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang berguna, dan menjadi pemimpin yang baik. Dari semua kesulitan itu, akhirnya saya menemukan jalan dan kemudahan.” ucapnya lirih.

Kini, perjuangannya mulai membuahkan hasil. Bahkan, sebelum benar-benar meninggalkan bangku kuliah, Alza telah menerima berbagai tawaran kerja dari sejumlah perusahaan nasional, mulai dari sektor perbankan, manufaktur hingga industri.

Ia akhirnya memilih bergabung dalam Program Magang Bakti BCA. Ia mulai bekerja pada 1 Agustus 2026, hanya beberapa hari setelah diwisuda.

Bagi Alza, pencapaian terbesar bukanlah memperoleh pekerjaan. Yang paling ia mimpikan adalah membahagiakan kedua orang tuanya.

“Saya ingin menjadi anak yang benar-benar mengangkat derajat orang tua saya. Saya ingin mengubah kehidupan mereka, menjadi anak yang berbakti, yang dibanggakan, dan membuat mereka merasakan hasil dari semua perjuangan saya,” ungkapnya.

Harapan itu juga ia titipkan kepada adiknya, Mirza. Ia ingin sang adik yang saat ini masih duduk di bangku SMK, kelak dapat menentukan masa depannya tanpa dihantui persoalan biaya pendidikan ataupun keterbatasan ekonomi.

“Aku ingin adikku nanti bisa menentukan kariernya tanpa rasa takut, tanpa rasa minder karena masalah finansial. Aku ingin dia berhasil menggapai cita-citanya,” ujarnya.

Perjalanan Alza menjadi bukti bahwa kesempatan yang diberikan melalui beasiswa tidak hanya membuka pintu pendidikan, tetapi juga mampu mengubah masa depan. Ketika kesempatan itu bertemu dengan kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah, lahirlah generasi muda yang siap membawa perubahan bagi dirinya sendiri, maupun keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....