Dari Balik Jeruji, Adi Bima Menata Masa Depan lewat Gunting dan Sisir
- 23 Jun 2026 11:12 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Suara mesin cukur berdengung pelan di sudut ruang L'Pane Barbershop Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang. Di hadapan cermin, seorang warga binaan tampak telaten merapikan rambut rekannya.
Pria itu adalah Adi Bima (32), warga binaan asal Magelang yang kini menjalani hari-harinya dengan menggeluti bidang pangkas rambut sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian di Lapas Semarang. Tangannya bergerak cekatan, menunjukkan keterampilan yang tidak kalah dengan barber profesional di luar lapas.
Sejak bergabung pada Desember 2025, Adi menemukan aktivitas yang membuat waktunya di dalam lapas terasa lebih bermakna. Meski belum pernah mengikuti pelatihan formal selama berada di lapas, kemampuan dasar yang telah dimilikinya sebelum menjalani masa pidana menjadi modal untuk ikut direkrut dalam unit barbershop.
"Saya memang sudah punya basic dari luar. Jadi, ketika ada kegiatan barber di lapas saya bergabung," ujarnya saat ditemui, Selasa 23 Juni 2026.
Setiap hari, Adi bersama rekan-rekannya melayani potong rambut warga binaan lainnya. Jumlah pelanggan tidak menentu, namun rata-rata mencapai sekitar 20 orang per hari. "Kalau saya lebih suka ada kegiatan seperti ini, pikiran jadi lebih teralihkan dan ada kesibukan yang bermanfaat," katanya.
Menurutnya, tidak banyak kendala dalam melayani pelanggan di lingkungan lapas, sebagian besar warga binaan menginginkan model rambut yang rapi dan sederhana, sesuai aturan yang berlaku. "Mayoritas harus rapi, jadi tidak banyak permintaan yang macam-macam," ungkapnya sambil tersenyum.
Dari setiap layanan potong rambut, Adi juga memperoleh premi hasil kerja. Sejak Mei 2026, tarif jasa pangkas rambut di unit barbershop ditetapkan sebesar Rp20 ribu per pelanggan. Sebagian hasilnya menjadi hak warga binaan yang bekerja dan ditabung hingga mereka bebas nanti.
Bagi Adi, tabungan tersebut menjadi bekal kecil untuk memulai kehidupan baru setelah kembali ke masyarakat. Ia memperkirakan akan menyelesaikan masa pidananya pada awal tahun depan, setelah menjalani sekitar satu tahun masa pembinaan.
Meski belum memiliki rencana yang pasti, Adi mengaku mulai memikirkan kemungkinan melanjutkan keterampilan barber yang kini ditekuninya sebagai sumber penghidupan setelah bebas. "Belum tahu pasti nanti seperti apa, tapi ada pikiran ke arah sana," tuturnya.
Saat ini, layanan yang tersedia di L'Pane Barbershop masih terbatas pada pangkas rambut dan pewarnaan rambut hitam. Namun, bagi Adi, fasilitas sederhana itu sudah cukup untuk mengasah keterampilan dan menumbuhkan kepercayaan diri.
Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menjelaskan, keberadaan L'Pane Barbershop bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan yang bernilai ekonomi. Selain memperoleh pengalaman kerja, para warga binaan juga mendapatkan premi sesuai tingkat produktivitas masing-masing sebagai bentuk penghargaan selama mengikuti program pembinaan.
“Program pembinaan kemandirian seperti L'Pane Barbershop kami hadirkan untuk memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah bebas nanti. Kami ingin mereka memiliki kompetensi kerja, mental kewirausahaan, dan kepercayaan diri untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat,” ujarnya.
L'Pane Barbershop didirikan pada 2023 dan berada di bawah pengelolaan Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Semarang. Seluruh peralatan kerja disediakan oleh Lapas sebagai sarana pendukung pembinaan bagi warga binaan yang terlibat dalam program tersebut.
Saat ini, terdapat tiga warga binaan yang bertugas sebagai barber setelah melalui proses asesmen dan seleksi yang ketat. Mereka harus telah menjalani masa pidana minimal tiga hingga enam bulan, berkelakuan baik, serta dinilai tidak berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban selama mengikuti program pembinaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....