Dari Desa ke Pasar Nasional, Ribuan Resi Jadi Bukti Kebangkitan UMKM Era Digital
- 19 Mei 2026 17:43 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Dari Desa di Pekalongan ke Pasar Nasional, Ribuan Resi Jadi Bukti Kebangkitan UMKM Digital
- Upaya Shopee Indonesia dongkrak Level UMKM
RRI.CO.ID, Pekalongan - Di sebuah sudut Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, suara printer resi pengiriman terdengar nyaris tanpa jeda. Host live streaming sibuk menawarkan koleksi pakaian wanita terbaru, pekerja hilir mudik menyiapkan paket pesanan, sementara notifikasi order baru terus bermunculan di layar komputer.
Pemandangan yang kini terlihat biasa di markas CnL Collection itu sesungguhnya menjadi simbol perubahan besar wajah UMKM lokal di era digital.
Beberapa tahun lalu, usaha konveksi rumahan di Kabupaten Pekalongan masih bergantung pada pasar tradisional, jaringan grosir, dan toko offline.
Penjualan bergerak lambat, terbatas wilayah, serta sangat mengandalkan kedatangan pembeli secara langsung Kini pola itu berubah total.
CnL Collection menjadi salah satu contoh bagaimana transformasi digital mampu mengubah usaha rumahan di desa menjadi pemain yang menjangkau pasar nasional. Dari yang awalnya hanya menerima puluhan pesanan per hari, kini ribuan resi pengiriman dapat dicetak setiap harinya.
“Awal merambah penjualan digital hanya menerima puluhan pesanan per hari, kini ribuan resi pengiriman dapat dicetak setiap harinya,” ujar
Owner CnL Collection, Muhamad David Ainul, Senin, 18 Mei 2026. Perjalanan David membangun usaha tidak datang secara instan, anak kedua dari tujuh bersaudara itu memulai semuanya dari nol saat masih bekerja sebagai buruh harian di usaha konveksi milik orang lain.
Dengan modal sekitar Rp40 juta, ia memberanikan diri merintis usaha fashion wanita rumahan pada 2015. Saat platform marketplace mulai tumbuh pesat di Indonesia setahun kemudian, David melihat peluang baru yang sebelumnya sulit dijangkau pelaku usaha desa.
Ia mulai belajar sendiri memasarkan produk melalui Facebook dan marketplace. Tanpa mentor, tanpa pengalaman bisnis besar, David mengembangkan penjualan pakaian wanita seperti blouse, long tunic muslim, hingga bawahan wanita secara online maupun offline.
“Awalnya ya belajar sendiri. Enggak punya mentor. Semua otodidak dan saya sendiri bekerja sebagai buruh konveksi tenaga harian,” katanya.
Menurutnya transformasi digital yang dialami CnL Collection bukan sekadar soal meningkatnya angka penjualan. Di balik ribuan resi yang tercetak setiap hari, terjadi perubahan besar dalam cara UMKM bertahan dan berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen.
Kini pembeli tidak lagi bergantung pada toko fisik. Semua bergerak cepat melalui aplikasi digital, marketplace, hingga live streaming penjualan online.
Berbagai fitur seperti live streaming, kampanye promo angka kembar, gratis ongkir, hingga dukungan ekosistem digital membuat pelaku usaha kecil memiliki ruang bersaing yang jauh lebih terbuka.
Jika dulu promosi membutuhkan biaya besar dengan jangkauan terbatas, kini satu sesi live streaming mampu menghadirkan ribuan calon pembeli hanya dalam hitungan jam. Marketplace juga membuka akses pasar yang sebelumnya hampir mustahil dijangkau UMKM daerah.
Produk yang diproduksi dari sudut desa di Pekalongan kini dapat dibeli konsumen dari Jakarta, Surabaya, Makassar hingga Medan secara bersamaan hanya melalui telepon genggam. Namun perubahan itu juga membawa tantangan baru, Persaingan semakin luas dan bergerak sangat cepat mengikuti tren pasar digital.
Bagi pelaku usaha fashion seperti CnL Collection, tantangan terbesar bukan lagi sekadar memproduksi barang berkualitas, tetapi bagaimana menjaga arus pembeli tetap stabil setiap hari. Kini strategi bisnis tidak lagi sekadar mengandalkan intuisi. Semua bergerak berdasarkan data dan perilaku konsumen digital.
Produk yang sedang tren dapat langsung diproduksi ulang, strategi promosi bisa diganti dalam hitungan jam, bahkan waktu live streaming hingga pilihan warna pakaian ikut dianalisis berdasarkan respons pasar. Kabupaten Pekalongan sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu sentra batik dan industri konveksi rumahan di Jawa Tengah.
Banyak usaha tumbuh dari skala keluarga dengan pola pemasaran turun-temurun yang sebelumnya masih mengandalkan metode konvensional. Pemerintah Kabupaten Pekalongan pun mulai mendorong percepatan transformasi digital UMKM melalui berbagai program pendampingan.
Melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan, pemerintah menghadirkan Shopee Center di kawasan UMKM Kedungwuni sejak 2017 untuk membantu pelaku usaha memahami pemasaran digital.
Pelaksana Tugas Kepala Dinkop UKM & Naker Kabupaten Pekalongan, Siti Masruroh mengatakan, pemerintah kini kembali menghidupkan peran UMKM Center yang sempat vakum akibat pandemi Covid-19. “Kita sebelum pandemi telah bersinergi dengan marketplace Shopee Indonesia dengan menghadirkan Shopee Center di kawasan UMKM Wonopringgo, namun karena dampak Covid-19 vakum dan jalan sendiri-sendiri,” jelasnya, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, transformasi digital menjadi faktor penting yang mempercepat kebangkitan UMKM daerah. Kehadiran fasilitas seperti studio foto produk hingga live streaming kini membantu pelaku usaha kecil memahami pola pemasaran modern yang sebelumnya terasa rumit dan mahal.
Dari sudut desa di Pekalongan, ribuan resi itu kini bukan sekadar bukti transaksi. Ia menjadi simbol bagaimana UMKM lokal mulai bangkit, beradaptasi, dan menemukan jalannya sendiri di tengah arus ekonomi digital nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....