Kisah Fatmawati, Berjuang Mandiri di tengah Keterbatasan Fisik
- 09 Apr 2026 18:09 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus – Di sebuah kamar sederhana di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Fatmawati (38) lebih banyak menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Tubuhnya tak sekuat orang lain, namun, semangatnya justru sebaliknya, tetap tegak, bahkan tak pernah benar-benar runtuh oleh keadaan.
Sejak kecil, Fatmawati hidup dengan penyakit langka Osteogenesis Imperfecta (OI), kelainan genetik yang membuat tulangnya rapuh. Sedikit tekanan saja bisa menyebabkan cedera. Kondisi ini juga membuat postur tubuhnya berbeda, dengan perawakan yang lebih kecil dan keterbatasan gerak.
Ibunya, Mastiah (63), masih mengingat betul saat pertama kali mengetahui kondisi tersebut. Saat usia Fatmawati baru lima bulan, ia sempat dibawa ke dukun pijat. Namun setelah itu, kondisi sang anak justru memburuk.
“Setelah dipijat, anaknya demam dan terus menangis. Lalu kami bawa ke dokter spesialis anak, dr. Kasno. Dari situ diketahui kalau dia mengalami OI dan harus dirujuk ke Solo,” tutur Mastiah saat ditemui di rumahnya, Kamis, 9 April 2026.
Namun berbagai upaya pengobatan yang dilakukan kala itu belum membuahkan hasil signifikan. Sejak saat itu, Fatmawati harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik yang melekat hingga dewasa.
Meski demikian, keterbatasan tidak membuatnya menyerah. Fatmawati justru terus mencari cara agar tetap bisa mandiri dan menghasilkan penghasilan sendiri dari rumah.
Ia pernah berjualan boneka Hello Kitty secara daring melalui Facebook pada 2016 hingga 2018. Boneka tersebut diambil dari toko grosir di Desa Gondangmanis.
Usahanya sempat berjalan lancar. Bahkan, cukup ramai sebelum pandemi Covid-19 melanda.
“Dulu sebelum Covid jualan saya lumayan ramai, tapi setelah itu toko grosirnya tidak menjual boneka lagi. Katanya beralih ke souvenir,” ujarnya.
Tak ingin berlarut dalam keadaan, Fatmawati mencoba hal baru. Ia mulai mengenal dunia digital melalui permainan daring di aplikasi Hago.
Dari sana, ia membuat karakter bernama Nifa Bear. Secara perlahan, ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp400 ribu per bulan.
Selain itu, ia juga dipercaya menjadi admin di sebuah aplikasi, yang memberinya tambahan penghasilan sekitar Rp300 ribu setiap bulan. Semua keterampilan itu dipelajarinya secara otodidak.
“Alhamdulillah bisa beli HP sendiri. Sekarang juga mulai desain rajutan seperti tas, tempat HP, gantungan kunci. Saya yang desain, nanti teman yang merajut,” katanya.
Produk desainnya dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp25 ribu. Dari situ, ia terus membangun kemandirian, sedikit demi sedikit.
Di balik semangatnya, Fatmawati juga pernah mengalami peristiwa pahit. Pada 2018, saat sedang sendirian di rumah dan masih aktif berjualan, ia menjadi korban perampokan.
“Ada laki-laki datang, langsung masuk dan ambil HP saya. Saya melawan, tapi tidak bisa, ,ulut saya dibekap, uang dua juta juga ikut diambil,” ucapnya dengan wajah sendu.
Namun, pengalaman itu tidak mematahkan tekadnya. Fatmawati tetap melanjutkan hidup, beradaptasi dengan keadaan, dan terus berusaha berkarya dari ruang kecil yang menjadi dunianya.
Dari keterbatasan yang ia miliki, Fatmawati membuktikan bahwa kemandirian bukan soal seberapa kuat fisik seseorang, melainkan seberapa besar tekad untuk terus bertahan dan melangkah. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....