Langkah Tertatih Suliyem di Jalan Retak Kampung Sekip
- 13 Feb 2026 15:33 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Dengan langkah tertatih, Suliyem menyusuri jalan kampung yang retak dan patah. Aspal yang dulu rata kini terbelah, menyisakan celah menganga akibat pergeseran tanah di Kampung Sekip RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Setiap pijakan terasa waswas, terlebih di musim penghujan yang belum menunjukkan tanda-tanda reda. Perempuan yang telah 40 tahun menetap di kampung itu mengaku baru kali ini merasakan pergerakan tanah separah sekarang.
Retakan tak hanya membelah jalan, tetapi juga merambat ke halaman dan dinding rumah warga. Tanah yang dulu kokoh, kini seperti tak lagi bersahabat.
Suliyem tinggal bersama anak sulungnya di sebuah rumah semi permanen. Bangunan sederhana itu kini terancam rusak, dinding mulai merekah, lantai terasa tak lagi rata.
Saat hujan turun deras di malam hari, ia sulit memejamkan mata. Kekhawatiran akan longsor susulan terus menghantui. “Baru tahun ini separah ini, takut kalau hujan deras,” tuturnya lirih ditemui, Jumat, 13 Februari 2026 siang.
Tak jauh dari rumahnya, sekitar 20 meter, rumah anak keduanya juga terdampak. Sebagian bangunan mengalami kerusakan, retakan di tembok semakin melebar, seolah mengikuti gerak tanah yang belum berhenti.
Fenomena pergeseran tanah di Kampung Sekip terjadi di tengah intensitas hujan yang tinggi. Kontur wilayah yang berbukit di kawasan Tembalang membuat tanah lebih rentan bergerak ketika jenuh air, warga pun hidup dalam kewaspadaan.
Di siang hari, aktivitas masih berjalan seperti biasa, warga tetap bertegur sapa. Namun, di balik itu, tersimpan kecemasan yang sama: apakah tanah akan kembali bergerak malam nanti?
Sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat saat hujan deras turun. Sebagian lainnya bertahan, menjaga rumah yang telah puluhan tahun menjadi saksi perjalanan hidup mereka.
Bagi Suliyem, rumah itu bukan sekadar bangunan karena disanalah ia membesarkan anak-anaknya, melewati suka dan duka selama empat dekade. Kini, ia hanya bisa berharap pergerakan tanah segera berhenti dan ada penanganan yang mampu memberi rasa aman bagi warga.
Di tengah retakan jalan dan dinding yang merekah, harapan itu masih ada, setegar langkah Suliyem yang terus bertahan di kampung yang dicintainya. "Maunya di sini saja," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....