Renyahnya Perjuangan, Gurihnya Harapan, Potret UMKM Karangbolo

  • 17 Agt 2025 18:58 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Di balik aroma gurih yang mengepul dari wajan-wajan besar, Dusun Karangbolo, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, menyimpan denyut kehidupan yang tak pernah padam. Setiap pagi, dentingan spatula, desis minyak panas, dan tawa para perajin berpadu menjadi irama khas yang mengundang siapa saja untuk singgah.

Dari teras rumah hingga sudut gang, tangan-tangan terampil mengaduk adonan, menakar bumbu, dan menebar harum rempah yang sejak puluhan tahun lalu menjadi identitas desa ini. Sejarah rasa gurih Karangbolo bermula pada 1970-an, ketika beberapa warga mulai merintis usaha keripik.

Salah satu kisah terkenalnya datang dari Kepala Dusun Karangbolo, Mitwa Amir, yang bercerita dengan bangga, bahwa ibunya telah memulai usaha keripik sejak 1986, bahkan sebelum ia lahir. “Sebelum saya lahir, ibu saya sudah bergelut di aneka peyek dan tempe keripik,” ujarnya, Sabtu (16/8/2025).

Dari usaha keluarga ini, semangat wirausaha terus menyebar. Kini, di dusun yang tidak terlalu luas ini, tercatat ada 56 UMKM yang mayoritas memproduksi peyek dan keripik, dengan cita rasa khas masing-masing.

Menariknya, meskipun banyak pelaku usaha yang memproduksi jenis camilan serupa, persaingan di Karangbolo jauh dari kata sengit dan etiap produk memiliki kekhasan rasa tersendiri. Sebab racikan tangan tiap pembuat selalu melahirkan cita rasa yang berbeda.

Di sisi lain, jalur pemasaran yang dimiliki para pelaku usaha pun bervariasi, sehingga masing-masing punya ruang untuk berkembang tanpa harus saling menyingkirkan. Bagi Mitwa, yang terpenting adalah menjaga komunikasi antarwarga agar semua pesanan dapat terpenuhi.

Salah satu pelaku UMKM, Muawanah telah konsisten menggeluti usaha peyek sejak 2002. "Usaha peyek tuh turun-temurun di kampung ini, walau memang kalau di keluarga saya belum ada, saya belajar sendiri,” ungkap Muawanah.

Menurutnya, setiap keluarga di Karangbolo memiliki ciri khas masing-masing dalam meracik peyek. Hal itu membuat persaingan cukup ketat, sebab hampir setiap rumah bisa memproduksi camilan serupa.

"Tantangannya, di dusun ini banyak pelaku usaha dengan produksi yang sama, jadi kita harus pandai menjaga mutu, kualitas. Gimana caranya biar tidak digeser sama yang lain,” tambahnya.

Salah satu pelaku UMKM lainnya yang juga melanjutkan usaha keluarga adalah Umi Latifah. Usaha peyek yang digelutinya merupakan usaha turun-temurun yang diwariskan dalam keluarganya.

Dalam kesehariannya, Umi bersama keluarga mampu memproduksi rata-rata 10 kilogram peyek per hari. “Selain rasa, kami juga ingin memberikan kesan profesional lewat packing yang rapi dan tahan lama,” jelasnya.

Dari tangan-tangan sederhana para pelaku UMKM inilah lahir cita rasa khas yang bukan sekadar panganan, melainkan juga identitas desa. Harapan mereka jelas: agar UMKM ini terus berkembang, semakin berkualitas, dan mampu membawa nama Karangbolo lebih dikenal luas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....