Makam Pangeran Purbaya di Goa Maria Diziarahi Muslim

  • 22 Jul 2025 00:23 WIB
  •  Semarang

KBRN, Batang: Suara lantunan Yasin dan Tahlil menggema oleh para jemaah warga Petodanan Bunder Proyonanggan Tengah. Uniknya, Yasin dan Tahlil itu dibacakan di tempat yang tak biasa, yakni di Makam Pangeran Arya Purbaya yang terletak di samping Goa Maria, Gereja Santo Yusup Batang.

Malam itu, 80 jemaah pria dan wanita membacakan Yasin dan Tahlil dalam rangka Haul dari Pangeran Arya Purbaya atau yang dikenal Mbah Dowo. Meski makam tersebut telah ada sejak abad 17 era Mataram Islam, namun haul baru digelar sejak 2024, atas inisiasi remaja musala setempat, dengan persetujuan pengurus Gereja Santo Yusup.

Ketua Pengurus Makam, Hari Mukti menerangkan, Pangeran Arya Purbaya merupakan sosok pejuang dan putra dari Sultan Ageng Tirtayasa, penguasa Keraton Banten. Karena kokoh memegang prinsip anti-VOC, dan mendapat perlawanan sengit. maka ia mengungsi hingga dimakamkan di Kabupaten Batang (area gereja).

"Kami hanya meneruskan tradisi leluhur saja. Ini merupakan haul kedua yang terselenggara berkat kerja sama yang baik antara umat Islam dengan pengurus gereja," terangnya, di samping Makam Pangeran Arya Purbaya, Senin (21/7/2025).

Perawatan makam dilakukan oleh pengurus makam dari remaja muslim dan didukung pihak gereja yang membantu perbaikan sarana prasarana. "Pendanaan perawatan makam dari swadaya remaja musala, dan dibantu pengurus gereja," ungkapnya.

Selain haul, tiap malam Jumat Kliwon pun digelar Yasinan rutin , itu menunjukkan toleransi yang luar biasa antara muslim dan jemaat gereja. "Walaupun Makam Mbah Dowo ada di komplek gereja, tapi kami dan pihak gereja bisa bersinergi, hingga saling memberi kesempatan untuk beribadah dan berdoa, tanpa ada benturan ,"tegasnya.

Ketua RT 3 RW 1 Petodanan Bunder, Rizal Fahmi mengakui toleransi dijunjung tinggi antar umat beragama, terutama ketika pelaksanaan ritual ibadah. Untuk menjaga keharmonisan, ketika umat Katolik akan beribadah, umat muslim memberikan ruang agar ibadah berjalan lancar.

"Ketika waktu tahlil bersamaan dengan ibadah umat Katolik, maka umat Islam sedikit menunda dan memprioritaskan jemaat gereja terlebih dahulu. Baru setelah selesai, warga muslim menggelar Yasin dan Tahlil di Makam Mbah Dowo," ujarrnya.

Pada waktu-waktu tertentu yang seringkali bersamaan, misalnya Jumat Agung, maka para peziarah muslim sedikit menunda dan memprioritaskan jemaat gereja untuk misa terlebih dahulu. "Ini teladan nyata toleransi yang baik karena kedua umat beragama ini bisa hidup berdampingan dengan memberikan kesempatan untuk beribadah sesuai keyakinannya," tegasnya.

Pastor Gereja Katolik Santo Yusup, Romo Paskalis Tejo Wibowo tak mempermasalahkan digelarnya pembacaan Yasin dan Tahlil di sekitar Goa Maria. "Ketika kami akan melaksanakan Misa Jumat Agung, maka umat muslim yang akan berziarah ke Makam Mbah Dowo bisa berkunjung pukul 21.00 WIB hingga tengah malam," terangnya. (Heri Kis)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....