Maksimalkan Kualitas Kebaya, Dhievine Batik Jaga Kuantitas Produksi

  • 10 Jul 2026 11:52 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Menjaga kualitas produk menjadi cara efektif bagi UMKM, untuk bisa menjaga nilai produk dan ketersediaan untuk konsumen. Belajar dari pengalaman yang pernah dialami, Dhievine Batik mencoba berfokus pada kualitas sembari menjaga kuantitas produk untuk mencegah penumpukan stok.

Widya Andhika yang merupakan Fashion Designer Dhievine Batik menyebut, pengalaman membuat produk dalam jumlah besar membuatnya kini memproduksi dalam jumlah terbatas. Penjualan yang tidak merata dan stok yang menumpuk, membuatnya berpikir untuk membuat stok dalam jumlah yang terbatas.

“Dari situ aku belajar, why not make it for someone who actually want it. Disini aku bertumbuh karena akhirnya aku mikir, baju itu adalah bukan baju yang kita buat untuk orang tapi orang yang memilih baju itu,” sebutnya dalam program Santai Siang PRO 2 Semarang, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut Dhika, stok yang terlalu banyak dan di-clearence dengan potongan harga jual membuat proses produksi menjadi kurang dihargai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia mengaku cukup terbantu sistem marketplace fesyen premium yang memungkinkan barang dapat diretur.

“Nah barang yang diretur ini kan kami otomatis jadi dead stock kan, karena orang pesen dulu baru kita buatkan. Ini kudos buat ibu-ibu penjahitku di rumah, jadi kita we’re able to make each and every order within a day dan bisa di-ship di hari yang sama karena level craftmanship ibu-ibu ini,” ungkap Dhika.

Ia menyebut setiap bulan diharuskan membuat sekitar 15 stock-keeping unit, sehingga desain yang dibuat diperkaya pada motif dan permainan warna. Hal tersebut membuat konsep dasar desain yang dibawa cukup konsisten, dengan mereplikasinya menggunakan motif atau warna yang berbeda-beda.

“Kita bukan tipikal brand yang mengikuti tren gitu lho, ini juga hal yang penting dari desain ya. Kita nggak membuat sebuah koleksi based on trend karena tren itu akan hilang, sedangkan kita kepengen wanita Indonesia yang belanja mereka selalu teringat kembali ke akar mereka,” ucap Dhika.

Salah satu yang menarik juga, bahwa proses pengerjaan kebaya di Dhievine Batik mayoritas dibuat dengan menggunakan tangan. Dhika menyebut ini membuat produknya fokus terhadap detail, apalagi ada beberapa jenis kain yang memang hanya bisa dijahit dengan mesin yang kecil.

“Jadi masang kancing masih pakai tangan, motong masih pakai tangan jadi nggak pakai mesin. Itu kenapa craftmanship penting banget buat kami, karena semua dilakukan pakai tangan bukan pakai mesin walaupun jahitnya memang pakai mesin,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....