Ekonomi Lesu, UMKM Tahu Kress Kudus Putar Otak agar Tetap Bertahan
- 15 Mei 2026 13:58 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus –Kondisi ekonomi yang belum stabil membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kudus harus mencari berbagai cara agar tetap bertahan. Salah satunya dialami pengusaha Tahu Kress asal Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, yang terpaksa mengurangi isi produk demi menekan biaya produksi tanpa menaikkan harga jual.
Pengusaha Tahu Kress di Perum Mega Indah, Desa Megawon RT 05 RW 01, Sugiarto (33) mengaku mulai merasakan tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh Rp17.590 dinilai ikut memicu kenaikan harga sejumlah bahan pendukung usaha, termasuk kemasan plastik.
Pria asal Lampung yang merantau di Kudus itu telah merintis usaha franchise Tahu Kressasal Kota Batu, Malang sejak 2018 dengan modal awal sekitar Rp10 juta. Ia mengaku usaha sempat berkembang cukup baik sebelum pandemi Covid-19 melanda.
“Penjualan Tahu Kress saya lumayan bagus sebelum pandemi. Bahkan saat Covid masih cukup berjalan. Sebelum pandemi bisa menjual 800 sampai 1.000 bungkus,” ujar Sugiarto saat ditemui di rumahnya, Jumat, 15 Mei 2026.
Namun, kondisi berubah setelah pandemi. Penjualan menurun dan kini bertahan di kisaran 400 bungkus per hari.
Di tengah penurunan daya beli masyarakat, biaya operasional justru terus meningkat. Terutama, harga plastik kemasan yang disebutnya naik hingga 100 persen.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Sugiarto memilih tidak menaikkan harga jual agar produknya tetap terjangkau dan diminati pedagang maupun pembeli. Sebagai gantinya, ia mengurangi jumlah isi tahu dalam setiap bungkus.
“Kalau harga dinaikkan takutnya tidak laku dan bakul tidak mau ambil, jadi saya kurangi isi. Dulu satu bungkus isi 10 sampai 11 tahu, sekarang jadi 9 sampai 10 tahu, harganya tetap Rp6.500 per bungkus,” katanya.
Produk Tahu Kress milik Sugiarto saat ini dipasarkan di sejumlah pasar tradisional di wilayah Kudus hingga Jepara. Meski keuntungan menipis, ia bersyukur usahanya masih bisa berjalan di tengah tekanan ekonomi.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UKM pada Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Nakerperinkopukm) Kudus, Moh Fais Anwari mengatakan, pemerintah terus melakukan pendampingan bagi pelaku UMKM. Sektor tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.
Hingga kini, tercatat sekitar 18.500 UMKM di Kabupaten Kudus bergerak di berbagai sektor usaha, dengan dominasi terbesar pada bidang makanan dan minuman. “Pendampingan dilakukan melalui pelatihan peningkatan kualitas SDM, manajemen keuangan, pemasaran produk, digitalisasi hingga pengenalan produk unggulan ke tingkat nasional maupun internasional,” ujar Fais. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....