Tiwul, Gatot dan lopis, Jejak Manis Olahan Singkong dan Ketan

  • 25 Apr 2026 14:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.IS, Semarang - Di tengah arus modernisasi kuliner yang serba instan, sudut kecil di Desa Kragilan, Sleman, justru menyajikan cerita berbeda. Di sana, makanan tradisional berbahan dasar singkong tetap hidup, dirawat, dan disajikan dengan rasa yang nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Daun pisang menjadi alas berbagai kudapan khas seperti ketan, lopis, tiwul, hingga gatot. Warna-warni jajanan pasar berpadu dengan parutan kelapa segar dan gula merah cair, menciptakan tampilan sederhana namun menggoda.

Tiwul dan gatot, misalnya, bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari sejarah panjang masyarakat pedesaan Jawa. Dahulu, keduanya menjadi alternatif pengganti nasi di masa sulit, namun kini justru dicari karena cita rasa khas dan nilai nostalgia yang melekat kuat.

Penjual tiwul, gatot, lopiscdi desa Kragilan Sleman mak Atun ( Foto: RRI/ Fetika)

Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional. Singkong dijemur, diolah, lalu dikukus dengan teknik turun-temurun, menghasilkan tekstur dan aroma yang sulit ditiru oleh produksi modern. Di sinilah letak kekuatannya: otentik, jujur, dan apa adanya.

Sementara itu, lopis dan ketan hadir sebagai pelengkap yang tak kalah menggoda. Disajikan dengan taburan kelapa parut dan siraman gula merah, keduanya menghadirkan sensasi legit yang akrab di lidah masyarakat Jawa.

Di tengah gempuran makanan cepat saji, warung mak Atun di Kragilan memberi pelajaran sederhana: bahwa yang bertahan bukan yang paling modern, melainkan yang paling jujur pada akar tradisinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....