Kampung Singkong Argowiyoto Salatiga, Ikon Ekonomi Kreatif di Jateng

  • 06 Apr 2026 00:48 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Salatiga – Kampung Singkong Argowiyoto di Kelurahan Ledok, Salatiga, terus memperkuat posisinya sebagai ikon ekonomi kreatif di Jawa Tengah. Keberhasilan kawasan ini dalam mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi kini menjadi rujukan bagi pengembangan UMKM berbasis komoditas unggulan di daerah lain.

Dalam kunjungannya ke salah satu pusat oleh-oleh di kawasan tersebut, Sabtu, 4 April 2026 sore, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menilai ekosistem di Kampung Singkong sudah terbentuk secara mandiri dan terintegrasi. Hal ini terlihat dari keterlibatan puluhan pelaku usaha yang mampu mengolah bahan baku lokal menjadi berbagai varian produk makanan dan minuman.

Nawal Arafah Yasin menyampaikan, model pengelolaan potensi daerah seperti yang ada di Argowiyoto harus terus didorong. Dengan demikian, modelnya bisa direplikasi di kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah.

“Di sini kita melihat UMKM yang semuanya berbahan baku singkong, saya sangat mendukung karena ekosistemnya sudah terbentuk, bahkan sampai ke ampasnya pun diolah. Ini contoh nyata bagaimana potensi lokal kalau dikelola dengan serius bisa jadi luar biasa,” ujarnya saat meninjau gerai Singkong Keju D-9.

Menurutnya, keberadaan kampung berbasis komoditas ini tidak hanya sekadar tempat produksi, tetapi juga menjadi penghubung bagi para pelaku usaha kecil untuk menembus pasar yang lebih luas. Nawal menekankan, sesuai arahan Pemerintah Provinsi, penguatan UMKM adalah prioritas agar mereka bisa naik kelas dan berdaya saing.

“Sebenarnya tiap daerah punya potensinya sendiri-sendiri, tinggal bagaimana kita gali. Misalnya daerah nelayan bisa fokus ke olahan ikan seperti abon, atau daerah pertanian lainnya. Jadi harapannya konsep kampung komoditas ini bisa muncul di tempat lain dengan ciri khas masing-masing,” ucap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Sementara itu, pemilik Singkong Keju D-9, Diah Kristanti sebagai salah satu perintis di kawasan tersebut, mengungkapkan, inovasi adalah kunci utama dalam mempertahankan eksistensi Kampung Singkong. Dari usaha yang dirintis sejak 2009, kini ia dan puluhan UMKM lainnya mampu mengolah sekitar tujuh ton singkong setiap harinya.

“Kita nggak cuma bikin singkong keju saja, tapi dikembangkan sampai ada spageti singkong hingga burger singkong. Pemasarannya pun sudah sampai ke Jawa Timur bahkan Bali. Tentu harapan kami dukungan pemerintah terus berlanjut agar ikon kebanggaan Salatiga ini bisa terus berkembang,” ujar Diah. (eka)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....