Kondisi Fiskal Sehat, APBN Jateng Surplus Rp7,24 Triliun di Tengah Dinamika Global

  • 03 Jul 2026 15:28 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Kinerja fiskal Jawa Tengah tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga akhir Mei 2026, APBN Regional Jawa Tengah mencatatkan surplus sebesar Rp7,24 triliun, mencerminkan kondisi keuangan negara yang sehat dan tetap mampu menopang aktivitas ekonomi daerah.

Surplus tersebut ditopang oleh realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp49,18 triliun atau 37,54 persen dari target. Angka itu tumbuh 11,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan penerimaan negara masih tumbuh kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya menyebut penerimaan negara berasal dari sektor perpajakan sebesar Rp22,60 triliun, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp23,22 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp3,35 triliun. Kinerja tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus mendukung berbagai program pembangunan.

"Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp41,94 triliun atau 43,20 persen dari pagu anggaran. Belanja tersebut terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp14,56 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp27,37 triliun," ucapnya dalam siaran pers, Rabu, 1 Juli 2026.

Meskipun belanja terus berjalan, keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara tetap terjaga. Realisasi belanja bahkan masih tumbuh positif sebesar 0,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi fiskal yang sehat berjalan seiring dengan kinerja ekonomi Jawa Tengah yang tetap solid. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Stabilitas ekonomi daerah juga tercermin dari inflasi yang terkendali. Pada Mei 2026, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,85 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen.

Perbaikan kesejahteraan masyarakat turut mendukung ketahanan ekonomi daerah. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 berada di angka 4,24 persen, sementara tingkat kemiskinan turun menjadi 9,39 persen.

"Kualitas pembangunan manusia terus meningkat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 74,77 atau berada dalam kategori tinggi," ujarnya.

Dari sisi konsumsi, optimisme masyarakat masih terjaga dan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 yang berada pada level 117,0 atau masih dalam zona optimistis.

Meski demikian, sejumlah risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. Fluktuasi aktivitas manufaktur global dan dinamika harga komoditas masih berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas harga di dalam negeri.

Selain APBN, kondisi fiskal daerah juga menunjukkan kinerja yang kuat. Hingga akhir Mei 2026, APBD konsolidasi Jawa Tengah mencatatkan surplus Rp11,54 triliun setelah pendapatan daerah mencapai Rp41,09 triliun dan belanja terealisasi Rp29,55 triliun.

Surplus tersebut menunjukkan ruang fiskal daerah masih cukup memadai untuk mendorong percepatan belanja pada periode berikutnya. Kondisi itu sekaligus menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....