Inflasi Jateng Terkendali, Harga Stabil Usai Lebaran 2026

  • 06 Mei 2026 15:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kondisi harga barang di Jawa Tengah setelah Lebaran 2026 relatif stabil. Bahkan, pada April 2026 tercatat terjadi penurunan harga secara umum atau deflasi sebesar 0,03 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan kondisi ini berbeda dengan nasional yang justru mengalami kenaikan harga 0,13 persen. Hal ini menunjukkan pengendalian harga di Jawa Tengah berjalan cukup baik.

"Provinsi Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,03% (mtm) pada April 2026, sementara nasional mengalami inflasi sebesar 0,13% (mtm)," ujarnya, melalui keterangan tertulis, Rabu, 6 Mei 2026.

Penurunan harga terutama terjadi pada bahan pangan seperti daging ayam, telur, dan cabai rawit. Kondisi ini terjadi karena permintaan masyarakat mulai normal setelah meningkat saat Lebaran.

Selain itu, harga emas perhiasan dan ongkos angkutan antar kota juga ikut turun. Namun, penurunan harga tidak lebih besar karena masih ada kenaikan pada minyak goreng, tiket pesawat, serta harga ponsel dan laptop.

"Harga komoditas minyak goreng meningkat seiring dengan kenaikan harga kelapa sawit dan biaya produksi plastik kemasan akibat konflik di Timur Tengah. Lebih lanjut, deflasi juga terjadi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan seiring dengan koreksi harga emas global," tuturnya.

Jika dibandingkan bulan sebelumnya, kondisi ini menunjukkan perbaikan. Pada Maret 2026, Jawa Tengah sempat mengalami kenaikan harga sebesar 0,57 persen.

Makanan jadi seperti nasi dengan lauk naik karena biaya energi seperti gas LPG dan bahan kemasan meningkat. Kenaikan juga terjadi pada barang elektronik seperti ponsel dan laptop yang dipengaruhi mahalnya komponen dari luar negeri.

Secara tahunan atau dibandingkan tahun lalu, harga di Jawa Tengah naik sebesar 2,11 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 2,42 persen.

Kenaikan harga tahunan terutama dipengaruhi harga emas, beras, daging ayam, minyak goreng, dan rokok. Sementara itu, harga beberapa bahan seperti bawang putih, bawang merah, cabai merah, dan kelapa justru turun sehingga menahan kenaikan.

Dilihat per daerah, sebagian wilayah di Jawa Tengah mengalami penurunan harga pada April 2026, diantaranya di Wonogiri, Wonosobo dan Cilacap. Namun, beberapa daerah seperti Kota Semarang dan Kudus masih mengalami kenaikan harga yang secara umum kondisi harga di seluruh wilayah masih tergolong terkendali.

"Secara tahunan, seluruh kota IHK di Jawa Tengah mengalami inflasi. Inflasi tertinggi year on year (yoy) terjadi di Kota Tegal 2,30%, Kota Surakarta 2,27%, Cilacap 2,23%, Kota Semarang 2,19%, Kabupaten Wonogiri 2,16%, Purwokerto 2,12%, Kudus 1,90%, Kabupaten Rembang 1,79%, dan Kabupaten Wonosobo 1,76%," ujarnya.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus menjaga stabilitas harga. Upaya ini dilakukan dengan memastikan pasokan barang cukup dan distribusi berjalan lancar.

Langkah ini penting agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Dengan begitu, daya beli masyarakat bisa tetap terjaga dan ekonomi daerah tetap stabil.

"Program pengendalian inflasi tersebut ditujukan untuk menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi barang/komoditas di Jawa Tengah sehingga inflasi dapat terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1%," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....